Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Begini cara agar cicilan rumah lebih murah. Seperti diketahui, pembayaran secara bertahap installment sekarang ini banyak ditawarkan pada konsumen.

Cara tersebut merupakan solusi konsumen yang tidak ingin cara KPR dari bank, baik itu karena masalah uang muka maupun persyaratan yang sulit.

Sedangkan untuk pengembang installment juga menjadi jawaban pada kebijakan BI yang tidak memperbolehkan perbankan memberi KPR kedua untuk konsumen jika rumahnya belum siap huni.

Angsuran bertahap biasanya 2-3 tahun (24 – 36 bulan) disesuaikan dengan lamanya proses pembangunan rumah. Sekarang ini sejalan dengan tertekannya perekonomian nasional dan semakin kerasnya persaingan mulai banyak yang menawarkan installment selama 60 bulan (5 tahun).

Meskipun cara pembayaran tersebut mudah seperti ini terdapat konsekuensinya, yakni terkait keamanan bertransaksi. Sebaliknya, dengan membeli secara KPR yang legalitasnya diverifikasi dan tersimpan di bank.

Pengembang memang meberikan jaminan transaksi aman dan tak ada unsur untuk wanprestasi atau lari dari tanggung jawab. Seperti perumahan Algita 8 Riverview dan Algira Townhouse di Bogor, berdasarkan keterangan staf pemasarannya, rumah yang ditawarkan sertifikatnya telah pecah semua.

Sertifikat ini sesudah bertransaksi akan disimpan oleh notaris yang ditunjuk, bukan dipegang pengembang. “Jadi, legalitasnya ada dan aman karena disimpan notaris,” jelasnya kepada pers, baru-baru ini.

Apabila terkait legalitas dinilai tak ada masalah konsumen mesti menghitung dengan cermat banyaknya angsuran bulanan. Maka dari itu, dalam mematok harga pengembang juga memasukkan faktor bunga. Kemungkinan besaran bunganya bisa sama dengan bank atau lebih mahal.

Misalnya Algira Riverview Cilebut, Bogor, tipe 36/72 secara tunai senilai Rp415 juta. Di sini konsumen tak dapat membeli dengan KPR dari bank sebab pengembangnya menghindari riba.

Untuk gantinya pengembang menawarkan tunai bertahap selama 5 tahun. Tipe yang sama untuk cicilan 5 tahun senilai Rp750 juta. Uang mukanya sebesar 30 persen sisanya diangsur flat sebanyak 60 kali selama 5 tahun. Apabila dikonversi dengan bunga angkanya terbilang tinggi 16 persen per tahun. Sedangkan bunga pasar KPR sekarang ini sekitar 12 persen.

Developer lain yang memasarkan tunai secara bertahap dan tak mengklaim secara syariah biasanya didukung bank, sebab syaratnya lebih bebas, tak seperti pengajuan KPR, pengembang dimohon oleh bank memberi buy back guarantee.

Pengembang akan membeli kembali rumahnya jika terjadi sesuatu dengan konsumen, sebab di belakangnya terdapat bank harganya selisih harga tunai dengan angsuran bertahap umumnya sama dengan bunga bank.