Batam Berpotensi Jadi Industri Besar, APLN Kembangkan Hunian Rp.400 Juta
Batam (Foto: univbatam)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Batam mempunyai potensi industri besar. Pasalnya kawasan ini merupakan pusat atau hub untuk perdagangan dan kegiatan bisnis Indonesia dengan Singapura.

Potensi industri tersebut juga memicu banyaknya permintaan hunian terjangkau dengan harga mulai Rp.400 juta hingga Rp.1 miliar.

Oleh sebab itu, guna memenuhi permintaan konsumen, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) akan mengembangkan hunian terjangkau berupa apartemen di kawasan Orchard Park, Batam.

“Kami mempersiapkan dan melakukan riset pasar untuk membangun hunian vertikal. Kira-kira rencananya seharga Rp.400 juta-Rp.1 miliar,” papar Assistant Vice President Strategic Marketing Residential APLN Agung Wirajaya, di Jakarta, Rabu (16/11).

Patokan harga yang telah ditetapkan dianggap sudah terjangkau bagi masyarakat Batam dan para investor atau pebisnis dari Jabodetabek.

Tidak hanya bisa dihuni sendiri, hunian tersebut juga dapat dijadikan instrumen investasi sebab bisa disewakan.

“Ini menarik bagi pebisnis nasional melihat Batam yang menjadi jembatan untuk berbisnis di ranah internasional atau ASEAN karena kedekatan geografis dengan Singapura,” imbuh Agung.

Keuntungan memiliki apartemen di sini ialah berada tepat di kawasan yang sudah hidup. Orchard Park dibangun di atas lahan seluas 42 hektare meliputi 1.200 rumah tapak yang dibagi jadi enam cluster.

Persea adalah tipe premium tunggal yaitu Falco berukuran 10×20 meter persegi dengan jumlah 100 unit.

Cluster lainnya yakni Durio yang dibangun dengan desain fasad semi resort. Terdiri dari tiga tipe unit Carreta 5×17 meter persegi, Criton 7×17 meter persegi, dan Clarias 8×18 meter persegi.

“Untuk 3 cluster pertama sudah terjual habis. Sementara dua cluster selanjutnya sudah terjual 70 persen,” jelasnya.

Selain itu, kawasan komersial, APLN juga langsung membangun ruko-ruko yang telah terjual 100 persen.

Hal ini juga bertepatan dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diyakini akan menarik minat investor untuk terus berinvestasi dan ikut serta dalam pengembangan perekonomian di Batam.

Konsumen cenderung membeli dengan sistem tunai bertahap. Sekitar 70 persen konsumen memilih metode ini dengan cicilan maksimal 30 bulan.

Sedangkan konsumen yang memilih skema fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 10 persen dan tunai keras 20 persen.

“Mereka banyak yang investasi untuk prospek bisnis dengan pemikiran siapa tahu properti itu bakal dipakai untuk berbisnis. Perbandingan profil konsumen antara penghuni dan investor adalah 60:40,” jelas Agung.