Banyak Biaya Sosial Dihabiskan Masyarakat, Siapa yang Diuntungkan?
Pembangunan LRT (Foto: skyscrapercity)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat kerugian masyarakat dari efek kemacetan di beberapa kawasan Jakarta hingga Rp.150 triliun per tahun.

Banyak biaya sosial yang dihabiskan masyarakat selama menghadapi kemacetan di jalan, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan sampai biaya kesehatan yang dikarenakan polusi udara.

Oleh sebab itu, pembangunan sejumlah infrastruktur transportasi, khususnya yang berbasis rel menjadi fokus utama publik.

Bagi kalangan penglaju atau komuter yang tinggal di kawasan satelit Bogor, Depok dan Bekasi, proyek macam light rail transit (LRT) tentu saja membangkitkan harapan besar.

“Jabodetabek seharusnya lebih dikembangkan moda transportasi berbasis rel seperti LRT ini. LRT bisa jadi solusi kemacetan,” tutur Muaz HD yang biasa melaju dari Bogor ke Jakarta kepada pers, Kamis (16/2).

Akan tetapi, kata wirausahawan lulusan IPB ini, LRT akan benar-benar efektif jika infrastruktur transportasi pendukungnya juga dibangun.

Seperti tempat-tempat parkir yang murah, luas, dan jaringan transportasi penghubung yang memadai.

Pada gilirannya, volume kendaraan yang melewati Jalan Tol Jagorawi, ataupun Tol Jakarta Cikampek akan berkurang.

Sebaliknya, bila jumlah moda penghubung sedikit dan jaringan terbatas, para pengguna kendaraan pribadi malas beralih ke LRT.

“Secara teori yang diuntungkan tentu saja masyarakat, tapi itu dengan catatan jika sistem transportasi dikelola, dan di subsidi pemerintah,” jelas Muaz.

Hal serupa dikatakan Director Research and Advisory Cushman And Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo.

Menurutnya, yang paling merasakan banyak manfaat dari kehadiran infrastruktur transportasi ini ialah masyarakat dan pengembang.

Masyarakat yang dimaksud Arief ialah sejumlah konsumen yang sudah membeli dan mempunyai hunian di sekitar koridor LRT.

Sedangkan pengembang yakni mereka yang tengah membangun dan akan membangun properti di kawasan yang dilintasi LRT. Pengembang akan memperoleh keuntungan dari potensi kenaikan harga properti yang dipasarkan.

Untuk konsumen, tentu saja jarak tempuh, dan biaya transportasi akan kian efisien. Sedangkan untuk pengembang akan memiliki posisi tawar tinggi dengan penawaran harga properti yang bertambah mahal.

“Konsekuensinya memang perumahan di sepanjang koridor LRT tersebut atau mempunyai lokasi strategis dengan hub-transportation akan menawarkan rumahnya dengan harga yang lebih mahal dengan kompetitor sejenisnya,” jelas Arief.

Tak mengherankan bila pada saat pemerintah baru meluncurkan rencana pembangunan LRT Jadebek, banyak pengembang yang mengincar lahan di sekitarnya.

Seperti Apartemen ini ramai dikunjungi, gara-gara terkoneksi Stasiun Light Rapid Transportation (LRT) dikawasan Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek).

“Alhamdulillah mas, selama pameran ini kami selalu ramai dikunjungi karena apartemen yang ditawarkan langsung terkoneksi dengan LRT,” ungkap General Manager Departemen Transit Oriented Development (TOD) PT Adhi Karya Tbk (ADHI), Amrozi Hamidi, saat ditemui INAPEX di pameran Indonesia Property expo, di JCC, Jakarta Selatan, Senin (13/2) petang ini.

Amrozi  mengakui pengembangan hunian vertikal karena dapat support proyek fasilitas LRT. “LRT itu kan harus kita siapkan, nah kalau cuma transportasi orang turun nanti kemana kalau tidak kita siapkan makanya kita cari tanah yang bisa kita kembangkan. Ini lah LRT City ini,” tambahnya.