Hunian TOD Dimurahkan, Bagaimana Kualitas Bangunannya?
Ilustrasi (Foto: mediaindonesia)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Dengan sikap pemerintah yang tengah mempersiapkan insentif kepada pelaku usaha properti dengan pengurangan pajak baru, diharapkan bisa mendongkrak kelesuan industri properti, tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Kepala Kebijakan Fiskal Kemenkeu RI, Suahasil Nazara, maksud dari di keluarkannya insentif berupa pengurangan pajak baru tersebut, agar transaksi tidak menjadi lebih mahal.

“Sekarang ini sedang dalam tahap pembahasan instrumen pajak mana yang akan di pangkas. Kemungkinan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Penghasilan (PPH) Pasal 22,” jelas Suahasil Nazara, diruang kerjanya, belum lama ini.

Pengurangan pajak, lanjut Nazara, utamanya di tujukan bagi rumah kelas menengah yang hingga sekarang ini kondisinya masih jalan di tempat. Sementara itu, untuk rumah murah bersubsidi tidak akan ada pajak yang di kurangi. Pasalnya, proyek yang di tujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah itu sudah minim komponen pajaknya.

Selain penghapusan pajak, menurut Nazara, pihak pemerintah juga akan meneliti kembali pengenaan pajak atas penjualan rumah baru atau primary dan juga penjualan rumah bekas atau secondary. Dalam hal ini, pajak hanya di kenakan kepada masyarakat saat membeli rumah baru, tapi ketika membeli rumah bekas tidak dikenai pajak pembelian rumah bekas.

“Di primary market ada PPnBM, tapi kalau di secondary market tidak ada PPnBM. Karena itu hanya dikenakan sekali pada waktu penjualan pertama dari developer. Nah ini juga disampaikan oleh teman-teman dari developer bahwa ini juga menambah biaya, menambah cost,” pungkas Suahasil Nazara.

Di sisi lain, Head of Residential Keppel Land Indonesia, Supardi Ang, merasa optimis meski menurut pemerintah untuk kondisi sektor properti belakangan ini belum stabil. Katanya, pihaknya bersama beberapa pengembang dunia properti akan tetap mengembangkan proyek perumahan yang menyasar pada segmen masyarakat menengah keatas.

“Keppel Land Limited (Keppel Land) dan PT Metropolitan Land sedang meluncurkan pengembangan hunian premium di Metland Puri, Tangerang. Bangunannya berkonsep couple-house atau semi-detached, yakni satu unit rumah berpasangan dengan satu unit rumah lainnya. Ini yang merupakan tipe premiun dari The Riviera,” kata Supardi Ang, di  Hotel Pullman, kemarin.

Luas bangunan tiap unitnya premium itu, kata Direktur Metropolitan Land, Olivia Surodjo, 253 meter dengan luas tanah 256 meter persegi. Harga yang ditawarkan untuk per-unit-nya itu Rp 10 Miliar. Juga ada tipe yang lebih kecil lagi ukuran luas tanah dan bangunannya. Untuk tipe Tipe A dtawarkan Rp 2,7 miliar, tipe B seharga Rp 3,6 miliar, dan tipe C seharga Rp 4,7 miliar.

“Ini pembangunan The Riviera tahap akhir, diluncurkan 145 unit. Target penjualan Rp 700 miliar. Bedanya calon pembeli saat ini jauh lebih selektif. Jika pengembang memiliki proyek dengan nilai jual lebih, bukan tidak mungkin akan menarik pembeli terutama investor,” kata Direktur Metropolitan Land, Olivia Surodjo.