Apartemen Smart Building, Kini Hadir di Balikpapan
Apartemen Smart Building (Foto: hairplanet)

BALIKPAPAN, INAPEX.co.id, – PT Pertamina (Persero) tengah membangun apartemen 24 lantai di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Gedung tersebut nantinya akan dihuni karyawan Pertamina yang pada umumnya bekerja di kilang pengolahan di Balikpapan.

“Dibangun dalam dua tahap dengan anggaran Rp.60 miliar,” jelas Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia, Rachmad Hardadi, belum lama ini.

Hardadi mengawasi lokasi pembangunan bersama 10 anggota Komisi VII DPR RI yang ahli energi dan sumber daya mineral. Rombongan Komisi VII dipimpin Wakil Ketua Komisi VII, Fadel Muhammad.

Sebelum menuju area pembangunan apartemen, Komisi VII mengamati perkembangan proyek pembangunan kilang di Bontang dan Balikpapan.

Situs proyek sebelumnya adalah rumah-rumah eksotik zaman Belanda yang selanjutnya dipakai sebagai hunian pekerja kilang minyak. “Tapi senior-senior kami akhirnya mau mengerti untuk kepentingan perusahaan dan Negara,” papar Hardadi.

Pertamina pun merancang pembangunan apartemen setinggi 24 lantai terdiri dari 299 unit dan satu gedung parkir setinggi enam lantai. Lumrahnya unit apartemen terdiri dari ukuran 58 meter persegi sampai 140 meter persegi.

Berbeda dengan pembangunan gedung tinggi lain, fasilitas tempat tinggal karyawan tersebut dikejar hanya 11 bulan saja. Pengerjaan dalam waktu singkat tentu memerlukan inovasi dan dana banyak.

“Gedung tinggi biasa seperti ini 3 tahun pengerjaan. Karenanya bisa lebih mahal 20-30 persen. Waktu pengerjaan floor to floor saja biasanya 2 minggu. Tapi, yang ini lima hari,” tutur Peter Handika sebagai kontraktor Kepala Operasional Pembangunan PT PP (persero) Tbk.

Peter menuturkan bahwa hunian tersebut dirancang dengan skema otomatis dan dikontrol secara terpusat. Bangunan dirancang gampang untuk mendeteksi bahaya secara cepat, seperti kebakaran.

“Termasuk mana lift yang mati dan mana yang jalan saat keadaan darurat. Begitu juga dengan tangga darurat mana yang bisa dipakai. Dibuat sebagai smart building,” jelasnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, popularitas Kabupaten Belitung kian melambung. Hingga pada peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) terjadi pada 2015 lalu, Kabupaten Belitung mencapai puncak keterkenalannya.

Tentu saja, hal tersebut mendongkrak aktivitas ekonomi khususnya bisnis pariwisata, dan akomodasi atau perhotelan kian meroket. Pada waktunya, harga lahan pun juga akan ikut  tinggi.

Menurut Manager Cottage and Beach Cafe Tanjung Kelayang, Andre Anthoni, harga lahan di sepanjang Pantai Tanjung Kelayang saja telah mencapai angka Rp.2 juta per meter persegi.

Sedangkan harga lahan di pusat kota Tanjung Pandan ada di level Rp.4 juta per meter persegi. “Permintaan lahan semakin meningkat karena banyak investor yang mencari lahan untuk dikembangkan perhotelan dan properti komersial,” kata Andre kepada persSabtu (22/10).

(kps)