Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi. (Foto: istimewa)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id –  Beragam inovasi untuk mewujudkan hunian tak selalu menggunakan material bagunan seperti pada lazimnya disebuah proyek bangunan. Tapi apartemen sewa ini, ternyata dirancang dari container dikawasan Semanggi, Jakarta Selatan.

Diantaranya seperti yang digagas oleh Michael J. Brochet, Principal Architect MJB Architects mengaku kebanjiran pesanan untuk merancang bangun menggunakan kontainer.

Proyek terbarunya itu, saat ini adalah apartemen sewa atau rumah kos dari kontainer di kawasan Karet, Semanggi. Bahkan, proses desain rumah kos tersebut, diakui Michael cukup berbeda dari proyek-proyek sebelumnya.

 

Setelah menangani proyek tersebut, MJB kebanjiran proyek-proyek yang memanfaatkan kontainer. Salah satunya, Kafe Pramestha Bandung. Berbeda dengan di Cilegon yang perlu insulasi maksimal, kontainer untuk Pramestha tidak dikhawatirkan memanas.

 

“Kalau sebelumnya, kami buat blok kecil-kecil yang kemudian disusun berulang kali baru kerjakan dalamnya. Untuk proyek ini, kami mulai dari penanganan tata letak dalamnya dulu,” ujar Michael, di Kedai Ketan Susu, Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut Michael mengatakan, rumah kos ini bisa digunakan oleh 2 orang setiap unitnya dengan pilihan 2 tipe, yaitu 20 dan 40 meter per segi.

Total rumah kos berjumlah 150 unit. Keunggulan kontainer adalah sifatnya yang temporer sehingga dapat dipindahkan ke tempat baru.

Menurut Michael, saat ini, dirinya tengah membuka pengundian berdasarkan suara terbanyak dari 5 tata letak yang dibuat. Masing-masing menampilkan berbagai fungsi ruangan yang berbeda. “Ini jadi tantangan untuk folding spaces dengan ukuran 2,4 meter X 3,7 meter X 6 meter,” kata Michael.

Pertama kali MJB menangani proyek yang melibatkan kontainer adalah perkantoran di kawasan industri Cilegon pada 2011. Saat itu, kliennya bergerak di logistik dan memiliki banyak kontainer bekas.

Untuk mengurangi biaya pembangunan kantor seperti permintaan klien, Michael pun memanfaatkan kontainer-kontainer tersebut. Tantangannya, menggunakan kontainer berarti membuat panas terhantar dengan baik. Dengan demikian, saat cuaca panas seperti di Cirebon, Michael perlu menambahkan insulasi untuk mereduksi panas yang ada.

Setelah menangani proyek tersebut, MJB kebanjiran proyek-proyek yang memanfaatkan kontainer. Salah satunya, Kafe Pramestha Bandung. Berbeda dengan di Cilegon yang perlu insulasi maksimal, kontainer untuk Pramestha tidak dikhawatirkan memanas.

“Karena di Bandung dingin, apalagi ini lokasinya dikelilingi pohon-pohon, jadi tambah sejuk. Enggak perlu insulasi sama sekali,” pungkasnya.