Akhir Februari, Jalan Layang Busway Ciledug-Tendean Beroperasi
Jalan Layang Busway Ciledug-Tendean (Foto: tirto)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Bila tak ada aral jalan layang (busway) Transjakarta koridor XIII Ciledug – Tendean akan beroperasi bulan akhir Februari 2017 nanti.

Sebagian besar tinggal finishing, bahkan jika paket Seskoal (Cipulir) telah rampung 100 persen. Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Suradi, di Jakarta, Rabu (8/2), menuturkan bahwa pengoperasiannya mesti menunggu seluruhnya selesai, karena paket Seskoal terletak di tengah-tengah.

Pengoperasian jalur khusus busway sepanjang 9,3 km tersebut sedikit telat dari rencana awal yang targetnya beroperasi sebelum awal tahun 2017.

Pembangunan jalan layang busway ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan parah di Jl Raya Ciledug sampai Kebayoran Lama.

Di jalan yang kapasitasnya terbatas ini kendaraan pribadi, Metro Mini, angkot, dan motor saling berebut hanya untuk bisa bergerak.

Dengan moda angkutan yang tergolong nyaman dan cepat orang diharapkan mau meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan Transjakarta.

Busway koridor XIII berimpitan dengan Metro Mini 69 (Ciledug-Blok M) sampai Dinas Perhubungan DKI mesti menata ulang rute angkutan umum di koridor tersebut.

Proyek yang dimulai pengerjaannya Maret 2015 tersebut dibangun dengan sana sebanyak Rp.2,5 triliun. Waktu perjalanan Ciledug-Tendean diprediksi hanya 30 menit.

Transjakarta akan berhenti di 12 yakni dimulai dari Universitas Budi Luhur, JORR W2, Swadarma, ITC Cipulir, Seskoal, Carrefour Kebayoran Lama, dan Kebayoran Lama.

Tidak hanya itu, disediakan halte di Taman Puring, MRT, Tirtayasa, Rawa Barat, dan Trans TV Tendean.

Khusus halte Cipulir dan CSW yang  ketinggiannya 20 m akan dipasang lift dan eskalator.

Kemudian, akan ada fasilitas Transjakarta Care khusus untuk difabel. Dengan menghubungi call center nanti akan dijemput dan diantar ke tempat tujuan.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, berdasarkan penelitian ECA International pada tingkat akomodasi yang dapat disewa oleh ekspatriat pada 2017, Jakarta berada di peringkat 11.

Peringkat tersebut turun dari survei lalu yang menempatkan ibu kota Indonesia pada angka 10 sebagai lokasi termahal untuk akomodasi high-end di Asia.

Sedangkan Singapura berada di peringkat ketujuh yang artinya jatuh dari posisi keempat dari tahun lalu.

Ini merupakan salah satu temuan dari Survei Akomodasi terbaru yang diterbitkan oleh ECA International, penyedia informasi dan perangkat lunak untuk manajemen dan penugasan karyawan di seluruh dunia.

ECA International sudah menjalankan penelitian soal akomodasi selama lebih dari 20 tahun untuk membantu perusahaan memberikan pilihan perumahan yang pas sebagai bagian dari seluruh paket kompensasi bagi karyawan ekspatriat.