Akankah Pengurangan Bunga Hipotek Direalisasikan?
Ilustrasi (Foto: mortgagesforless)

 

INAPEX.co.id – Perdebatan yang terus berlanjut terkait usulan reformasi perpajakan, salah satu isu yang menarik perhatian ialah akankah pengurangan bunga hipotek direalisasikan?.

Meskipun kerangka pajak yang tengah dibahas tak akan mengurangi deduksi, rencana ini mengusulkan penggandaan standar deduksi yang potensial, bisa membuat deduksi bunga hipotek (kredit yang diberikan atas dasar jaminan berupa benda tidak bergerak) jadi titik diperdebatkan banyak orang. Umumnya mereka yang mengklaim tidak akan mempunyai cukup deduksi untuk menjamin perincian.

Apakah ini merupakan masalah besar? “Orang tidak membeli rumah karena pengurangan hipotek. Alasan orang membeli rumah, adalah karena mereka bersemangat dan optimis dengan ekonomi,” ujar Penasihat ekonomi utama Donald Trump, Gary Cohn.

Tak semua orang setuju dengan pernyataan ini. National Association of Realtors (NAR) mengusulkan bahwa bila pemilik rumah kehilangan insentif untuk pengurangan bunga hipotek, hal tersebut bisa mempengaruhi penjualan rumah dan berdampak negatif pada nilai rumah.

“Ada alasan bahwa negara kita telah memberi insentif kepemilikan rumah dalam kode pajak selama lebih dari satu abad, berhasil,” tutur Presiden NAR, William Brown.

Jika menyangkut pembayar pajak, pengurangan bunga hipotek (MID) tak menguntungkan semua orang. Lebih dari tiga perempat potongan bunga hipotek beralih ke pemilik rumah menghasilkan lebih dari 100.000 dollar (lebih dari Rp.1 miliar) per tahun pada tahun 2012, menurut Pusat Anggaran dan Prioritas Kebijakan. Hanya seperempat pengembalian pajak yang mengklaim MID secara menyeluruh.

Tapi bagi pembayar pajak yang mengklaimnya, MID mungkin telah memainkan peran kunci dalam keputusan mereka untuk membeli rumah, menurut pakar keuangan.

“Pengurangan bunga hipotek sering menjadi insentif bagi calon pemilik rumah, terutama di kawasan Timur Laut dimana harga perumahan jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional,” kata George Gagliardi, perencana keuangan di Lexington, MA.

“Saya selalu memperhitungkan deduksi bunga hipotek untuk klien saya ketika saya mendapat pertanyaan tentang keterjangkauan rumah baru mengenai anggaran mereka,” tambahnya.

Bagi perencana keuangan di Denver, MID Kristin Sullivan, hal ini sangat mempengaruhi pembelian rumah pertamanya. “Saya ingat broker hipotek dan agen real estate saya menjelaskan bagaimana mengeluarkan 1.800 dollar atau setara Rp.24.408 juta per bulan untuk pembayaran rumah lebih seperti $ 1.500 (Rp.20.340 juta) anggaran saya karena penghapusan pajak,” ucapnya.

“Itu bisa dibenarkan, dalam pikiran mereka, saya membeli rumah yang lebih mahal daripada yang kuinginkan.” lanjutnya.

Walaupun demikian, MID mungkin jauh lebih berharga untuk keluarga dengan penghasilan lebih tinggi daripada keluarga dengan penghasilan rendah. “Bahkan jika pengurangan standar saat ini meningkat dua kali lipat, masih akan ada insentif signifikan bagi keluarga dengan pendapatan lebih tinggi yang membeli rumah lebih mahal,” imbuh Perencana Keuangan di Boston, Abe Ringer.