Beli Rumah Tanpa DP dan Berhadiah Mobil, Ini Pilihannya!
Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Akad secara Syariah, ternyata menjadi pilihan selain dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) konvensional. Lalu bagaimana sejarahnya? Setiap orang dapat dipastikan mempunyai karakteristik penghasilan berbeda.

Ada yang bergaji tetap seperti karyawan, ada yang tidak tetap seperti pedagang. Ada yang masih muda dan terbatas penghasilannya, ada yang sudah mulai mapan dengan gaji cukup besar.

Begitu pula pengeluaran. Kendati punya penghasilan yang sama, pengeluaran rutin sebagian orang mungkin kecil saja karena, misalnya masih bujangan atau belum punya anak.

Disisi lain, sebagian orang lagi pengeluarannya sudah tinggi. Karena berbagai perbedaan itu, fitur KPR yang dibutuhkan setiap orang pun bisa berbeda.

Yang bergaji tetap misalnya, mungkin perlu KPR dengan cicilan tetap setiap bulan.

Sedangkan para pedagang, kaum profesional atau kalangan berpenghasilan tinggi, bisa toleran dengan KPR yang cicilannya fluktuatif mengikuti naik turunnya bunga kredit.

Sebab itu penting mengidentifikasi karakteristik keuangan (pendapatan dan pengeluaran) masing-masing sebelum memilih KPR yang cocok.

Akad Syariah

Sementara itu, untuk masyarakat yang merasa enggan memanfaatkan fasilitas KPR konvensional, karena misalnya menganggapnya riba, bisa memilih KPR syariah.

Kalau margin KPR syariah dengan akad murabahah (jual beli) terbilang tinggi, bisa pilih KPR dengan akad ijarah muntahiyah bittamlik atau IMBT (financial lease atau pembiayaan sewa) dan musyarakah mutanaqishah atau MMQ (pemilikan bersama) atau diminishing partnership. Selain lebih rendah marginnya, ketentuan uang mukanya juga lebih kecil dibanding KPR konvensional.

Hanya, memang belum banyak bank syariah yang menawarkan KPR dengan dua akad itu. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Bank Permata.
“Kita punya komplit, murabahah, IMBT, MMQ, sampai PermataKPR Bijak Syariah dengan akad MMQ,“ kata Maya.

Tenor (maksimal 20 tahun) dan marginnya sama dengan KPR konvensional, ada margin promo yang rendah fix selama beberapa tahun pertama.
Setelah itu floating tapi tidak melebihi ceiling caps (batas tertinggi) yang disepakati bank di awal dengan debitur dan dicantumkan dalam kontrak. Misalnya, SBI 12 bulan+8% dikurangi diskon.

Jadi, kalau SBI 12 bulan 5,8%, margin floating-nya maksimal 13,8% per tahun. Setelah dikasih diskon, debitur cukup membayar 11–12%. Besaran diskon tergantung kemampuan bank, kredibilitas debitur, dan produk pembiayaan.
Misalnya, diskon untuk pembiayaan pembelian rumah beda dengan kredit multiguna beragun properti. Review margin dilakukan setiap tiga bulan.

Kalaupun terjadi situasi ekstrim, katakanlah biaya dana melesat menjadi 15% dan BI rate diasumsikan tetap, Bank Permata Syariah hanya bisa mengenakan margin maksimal 13,8%, karena ceiling caps sudah tertera dalam kontrak.

Sementara bank lain sepertio CIMB Niaga, Maybank Indonesia, OCBC, dan Bank Muamalat baru memasarkan KPR syariah dengan akad MMQ selain murabahah.

Menurut Maya, sekarang saat yang baik membeli rumah dengan KPR, karena pilihan produknya beragam dengan bunga promo yang rendah fix lebih lama.

“Apalagi, harga rumah tidak naik tinggi (selama beberapa tahun terakhir) dan developer menawarkan banyak promo menarik,” katanya.