ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Mengadopsi penerapan teknologi properti murah dinilai mampu mengurangi angka backlog (kekurangan terhadap ketersediaan rumah) yang saat ini mencapai 13,8 juta unit.

Salah satunya melalui teknologi kayu olahan sistem knockdown, karena mampu dibangun dengan cepat, juga lebih murah sekaligus ramah lingkungan.

Hal tersebut dibenarkan, Pengamat tata kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga terkait penerapan teknologi properti murah, perlu terus digencarkan melalui edukasi pada publik.

Lebih lanjut dikatakan Nirwono, terdapat tiga pihak yang bertanggungjawab dalam mendukung penerapan adopsi teknologi kayu ramah lingkungan.

“Mereka adalah pemerintah daerah, pengembang, dan arsitek,” kata pria yang juga berprofesi arsitek ini.

Ketiganya, kata Nirwono, harus mengangkat kembali dan membangun rasa bangga terhadap arsitektur lokal yakni rumah berbahan bangunan lokal yang ramah lingkungan, seperti kayu, bambu, batu kali.

 “Pemda harus siapkan perda yang mewajibkan mengangkat arsitektur lokal dan berbahan ramah lingkungan, pengembang dan arsitek wajib mengikutinya, kalau tidak pemda tidak memberikan IMB (Izin Mendirikan Bangunan),” kata Nirwono.

Nirwono melanjutkan, agar adopsi teknologi kayu bertahan lama, dilakukan penguatan lingkungan seperti pelestarian hutan kayu dan hutan bambu sehingga menambah luas ruang terbuka hijau (RTH) dan memperbaiki kualitas lingkungan pemukiman.

“Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan harus diterapkan di mana pembangunan perumahan dan pemukiman harus ramah lingkungan. Dengan begitu, akan memperbaiki kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan penghuninya,” ujarnya.

Menurut Nirwono, masih minimnya adopsi teknologi properti dan penggunaan bahan alternatif membangun rumah, karena tidak ada kebijakan tata ruang yang konsisten kepada masyarakat dan pengembang. Padahal dalam membangun, kawasan hunian, dan kawasan RTH harus seimbang.

Selama ini, kata Nirwono, konsep pengembangan kawasan di kawasan perkotaan belum diarahkan ke kepadatan sedang-tinggi untuk menghemat lahan, juga belum ada pembatasan rumah tapak di dalam kota dan menerapkan prinsip bangunan hijau.

Upaya lain adalah revitalisasi kawasan padat penduduk dan padat bangunan di pusat kota, dengan mendorong hunian vertikal, juga perbaikan kampung dalam kota.

“Selain itu, perlu dilakukan pengembangan rumah tapak ke arah pinggiran kota dengan teknik arsitektur lokal. Contoh rumah panggung kayu dan bambu dengan teknik pengawetan tinggi sehingga bertahan lama,” tegas Nirwono.