Ilustrasi loket layanan Bank BTN di Indonesia Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)
Ilustrasi loket layanan Bank BTN di pameran Indonesia Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)

 

SEMARANG, INAPEX.co.id – Sedikitnya 6000 debitur dari kalangan pekerja informal, dapat alokasi dana Rp.300 Miliar untuk mendukung pembiayaan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN Mikro.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) Maryono memproyeksi, alokasi paling sedikit dapat diberikan untuk sektor informal dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Dengan asumsi, rata-rata pemohon kredit mendapatkan Rp50 juta, maka sekitar enam ribu pemohon bisa memperoleh kredit,” ujar Maryono saat merilis KPR BTN Mikro di Wisma Perdamaian, Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Untuk tahap pertama, BTN menyalurkan kredit kepada 300 pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) Jawa Tengah nilai kredit sekitar Rp15 miliar.

Selanjutnya, BTN akan menyalurkan KPR kepada pekerja di sektor informal di Ibukota DKI Jakarta dan Kota Bogor, Jawa Barat. Menurut Maryono, hal ini sejalan dengan proyeksi kebutuhan perumahan yang tinggi di Jakarta dan Bogor.

Kemudian, tak hanya memberikan kredit bagi pedagang, BTN juga akan menjangkau pekerja di sektor informal lainnya, termasuk petani dan nelayan di seluruh Indonesia.

“Sesuai dengan arahan dan masukan yang datang ke kami, kami tentu berharap bisa menyasar pekerja sektor informal lainnya, misalnya komunitas tukang cukur, tukang ojek, dan lainnya,” imbuh dia.

Kendati demikian, Maryono mengaku BTN belum memiliki proyeksi tetap terkait penyaluran KPR BTN Mikro menurut kota atau provinsi dan jenis kepemilikan rumah.

“Target penyaluran kredit per lokasi atau jenisnya belum spesifik. Karena ini produk baru, kami masih melihat minat pasar dan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Sebagai informasi, melalui fasilitas KPR BTN Mikro, pekerja sektor informal memiliki kesempatan untuk mendapatkan kredit untuk membeli rumah baru, membeli rumah kedua (second), membangun rumah di atas lahan yang telah dimiliki, hingga melakukan perbaikan atau renovasi rumah.

Syaratnya, pekerja sektor informal memiliki rata-rata penghasilan sekitar Rp1,8 juta sampai Rp2,8 juta per bulan dan telah bekerja di sektor tersebut setidaknya selama satu tahu.

Kemudian, pemohon kredit tergabung dalam komunitas pekerja informal atau koperasi dan mendapat rekomendasi dari komunitas saat mengajukan kredit. Kemudian, pemohon kredit telah membuka tabungan di BTN minimal selama tiga bulan dengan nominal tabungan setara cicilan kredit yang dibayarkan.

Bila disetujui, pemohon kredit bisa mendapatkan fasilitas kredit berupa uang muka (down payment/DP) mulai dari satu persen untuk pembelian rumah pertama dan DP 10 persen untuk perbaikan rumah.

Selanjutnya, promo bunga (fixed) 7,99 persen per tahun, kredit dapat dicicil mulai dari Rp15 ribu per hari, jangka waktu kredit mencapai 10 tahun, dan mendapat asuransi kredit.