529 unit hunian di proyek tower 1 LRT Jaticempaka nyaris ludes terjual. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sedikitnya 529 unit hunian di proyek tower 1 LRT Jaticempaka nyaris ludes terjual (90 persen). Tower I yang di-topping off ini tingginya 16 lantai total di proyek ini akan dibangun lima tower apartemen terdiri 3.774 unit.

“Dengan prosesi topping off dan dimulainya pembangunan mal, kami sangat yakin penjualan ke depannya akan terus meningkat berkejaran juga dengan operasional proyek transportasi kereta ringan atau LRT Cawang-Bekasi Timur yang jadi konsep utama proyek TOD di sini,” kata Djoko Santoso, Manager Biro Pemasaran PT Adhi Commuter Properti (ACP) saat prosesi tutup atap (topping off) tower pertama proyek LRT City Jaticempaka-Gateway Park (5,2 ha) di Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini.

LRT City Jaticempaka-Gateway Park diluncurkan sejak September 2017 dengan harga perdana untuk tipe studio 24,5 m2 Rp390 juta yang sekarang sudah naik menjadi Rp528 juta.

Total revenue ACP dari 90 persen penjualan di tahap pertama ini, masih dikatakan Djoko Santoso, mencapai Rp225 miliar dari total revenue proyek yang mencapai Rp3,3 triliun.

Project Director LRT City Jaticempaka-Gateway Park Ibnu Mahmud Junaidi menambahkan, konsep hunian di proyek ini akan sangat nyaman karena ada pemisahan yang tegas antara hunian dan sarana transportasi serta fasilitas umum.

“Mobil yang masuk ke sini langsung masuk basement, jadi di atas tidak ada kendaraan, hanya pedestrian dengan taman terbuka untuk akses ke stasiun dan fasilitas komersial. Privasi hunian sangat terjaga,” kata Djoko Santoso.

Nantinya kalau proyek transportasi LRT sudah jadi, dari proyek ini ke Cawang (Jakarta) hanya 10 menit, ke Bekasi Timur atau Cibubur hanya 30 menit. Konsep transportasi di kawasannya shift & transit. Akan ada shuttle bus untuk mengoneksikan kawasan dengan sarana transportasi publik yang lain.

Terlepas itu, kendati suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) cenderung naik tapi untuk pencari rumah sebagai hunian sendiri lebih unggul 90%.
Selanjutnya disusul investasi properti hanya mencapai 10%. Fakta itu tercermin pada hasil survei pengunjung Indonesia Properti Expo (IPEX) periode September 2018.

“Pencari properti di pameran IPEX 90% adalah pencari rumah untuk dijadikan tempat tinggal sendiri, kemudian 10% yaitu pengunjung yang pilih investasi properti,” ujar Presiden Direktur PT. Adhouse Clarion Events Toerangga Putra, di Jakarta, belum lama ini.

Dilain pihak, Bank Indonesia (BI) juga merilis data survei harga properti residensial di kuartal III-2018. Di pasar primer, harga properti residensial terindikasi melambat.

Pergerakan Indeks Harga Properti Residensial (IHRP) yang tumbuh 0,42% Quarterly-to-Quarterly (QtQ) atau lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,76% QtQ.

Secara tahunan (year-on-year/YoY), pertumbuhan IHRP juga menurun dari semula 3,26% YoY di kuartal II-2018 menjadi 3,18% YoY di kuartal lalu. Kenaikan IHRP periode Juli-September 2018 secara tahunan juga masih lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,32% YoY.

Adanya perlambatan dari kuartal sebelumnya tidak lepas dari volume penjualan properti yang melambat cukup signifikan. Pada kuartal III-2018, penjualan properti terkontraksi alias minus 14,14% QtQ, atau lebih rendah dibandingkan kuartal II-2018 sebesar -0,08% QtQ.

Di periode Juli-September 2018, penjualan rumah tipe menengah turun hingga 11,14 % QtQ, sementara rumah tipe besar turun hingga 11,11% QtQ.

Penurunan terbesar terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 15,92% QtQ. “Sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan rumah pada triwulan III-2018 adalah penurunan permintaan konsumen, terbatasnya penawaran perumahan dari responden, suku bunga KPR yang dianggap masih tinggi, dan harga rumah yang kurang terjangkau oleh konsumen,” sebut BI pada laporannya.

Selain itu, mengenai kredit pemilikan rumah (KPR), rata-rata suku bunga KPR tertinggi per September 2018 berada di Bengkulu (14,48%), Sulawesi Tengah (14,08%), Jambi (13,37%), Gorontalo (13,17%), dan Papua Barat (12,75%).

Sebaliknya, rata-rata suku bunga terendah berada di DI Yogyakarta (8,82%), DKI Jakarta (9,6%), Nusa Tenggara Timur/NTT (10,04%), Sumatera Utara (10,41%), dan Aceh (10,43%).

Kendati demikian, dari seluruh provinsi lokasi proyek (kecuali Kalimantan Utara), terdapat 12 provinsi yang mengalami kenaikan rata-rata suku bunga KPR, di antaranya Bangka Belitung (+0,25%), Kalimantan Barat (+0,03%), Kepulauan Riau (+0,14%), Sulawesi Selatan (+0,15%), DKI Jakarta (+0,13%), Gorontalo (+0,04%), Kalimantan Tengah (+0,08%), Banten (+0,02%), dan Sulawesi Tenggara (+0,09%).