Selama 50 Tahun, Waduk Jatiluhur Masih yang Terbesar di Indonesia
Waduk Jatiluhur (Foto: youtube)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Keberadaan Bendungan Ir H Djuanda atau lebih dikenal dengan Waduk Jatiluhur, sudah memberikan manfaat besar terutama bagi petani yang mempunyai lahan di wilayah Jawa Barat bagian utara.

Pada usianya saat ini sudah memasuki tahun ke-50, bendungan ini masih yang terbesar di Indonesia.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menuturkan bahwa kapasitas daya tampung bendungan yang luas genangannya sampai 83 kilometer persegi tersebut bisa mencapai 3 miliar meter kubik.

“Waduk Jatigede yang menjadi bendungan terbesar kedua di Indonesia, kapasitasnya hanya 980 juta meter kubik atau sepertiganya,” tutur Basuki saat seminar bertajuk Setengah Abad Bendungan Ir H Djuanda Menghidupi Negeri di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Rabu (19/7).

Walaupun sudah berusia setengah abad, tingkat sedimentasi bendungan yang didesain sepanjang 1,2 kilometer itu masih jauh lebih kecil dibandingkan Bengawan Solo.

“Bengawan Solo lebih muda tapi sedimentasinya lebih parah. Mungkin karena ada dua bendungan lain di atasnya,” jelasnya.

Kehadiran bendungan tersebut memberikan manfaat besar untuk kehidupan masyarakat. Tidak hanya sebagai sumber air baku untuk rumah tangga, kota dan industri, bendungan tersebut juga dimanfaatkan untuk pengendali banjir di hilir untuk wilayah seluas 20.000 hektar.

Selain itu, keberadaannya juga dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 187,5 megawatt, dan sumber saluran irigasi untuk 240.000 hektar sawah dua musim per tahun.

“Petani bisa memanfaatkan air bendungan untuk irigasi tanpa dipungut biaya apa pun,” imbuh dia.

Jika diasumsikan produksi rata-rata padi 5,5 ton per hektar per musim, maka bendungan yang dikelola Perum Jasa Tirta II tersebut sudah mendorong produksi padi sebanyak 3,3 juta ton per tahun. Nilainya setara dengan Rp.13,86 triliun per tahun.

Kini, keberadaan petani keramba meningkat pesat, jika dibandingkan saat waduk tersebut selesai dibangun pada tahun 1967. “Keramba itu ada 33.000, yang selama ini mereka sudah merusak (kualitas air) bendungan,” jelas Basuki.

Maka dari itu, Basuki memerintahkan kepada Perum Jasa Tirta II, sebagai pengelola bendungan yang sudah berusia 50 tahun itu untuk membersihkannya.

Basuki menampik, dirinya tidak setuju dengan keberadaan petani keramba. Hanya, kehadiran mereka harus diatur jumlahnya, sesuai dengan kapasitas yang bisa ditampung bendungan.

“Kalau sudah 33.000 pasti sudah merusak kualitas air, tinggal siapa yang mau berenang di sana, karena akan amis. Padahal itu untuk air minum kita,” jelasnya.

“Dengan Satgas Keramba ini, mudah-mudahan 2018 sudah bersih,” tutup dia.