32 Tahun Lalu, Pasar Minggu Ke Manggarai Cuma Sebentar
Jalanan Manggarai Sangat Padat (Foto: journaliberta)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – 32 tahun yang lalu, waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya sangat cepat, beda dengan sekarang yang setiap hari semakin melambat. Akibatnya, mobilitas pun terganggu.

Pasalnya, pertumbuhan kota yang pesat selain positif, ada juga negatifnya yaitu menurunnya aksesibilitas.

Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia pun mengalami pertumbuhan pesat yang berdampak pada kemacetan.

“Sekarang waktu tempuh meningkat lebih dari 4 kali lipat. Dari Pasar Minggu ke Manggarai tahun 1985 hanya 22 menit dengan kecepatan 26,3 kilometer per jam,” papar Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus di Jakarta, baru-baru ini.

Pada 2000, menurut Reza, waktu tempuh rute tersebut bertambah jadi 36 menit dengan kecepatan 16,1 kilometer per jam.

Lalu, 11 tahun kemudian, kecepatan kendaraan kian melambat dengan rata-rata hanya 6,1 kilometer per jam.

Contoh lain, ialah waktu tempuh dari Cilandak ke Monas. Pada 1985, waktu tempuh cuma 38 menit dengan kecepatan rendah 24,7 kilometer per jam.

Selanjutnya, pada 2000, kecepatan kendaraan berkurang jadi 49 menit dengan kecepatan 19,2 kilometer per jam.

Kemudian, 11 tahun selanjutnya, kecepatan kendaraan di rute ini hanya 9,4 kilometer per jam dengan waktu tempuh mencapai 95 menit.

Kemacetan pada 2002 bertambah pada 2020. Pada 2002, jalur jenuh atau macet hanya di pusat kota Jakarta.

Sementara 2020, diperkirakan macetnya telah menyebar keluar DKI, seperti Depok, Bintaro, Serpong, dan Bekasi.

“Kalau kita lihat Google Maps, jalan-jalan merah terus. Adanya kemacetan berkelanjutan ini menyebabkan ekonomi biaya tinggi, sebagai pekerja rugi, apalagi pebisnis,” jelas Reza.

“Ini akibat terlalu besarnya penggunaan kendaraan pribadi dan rendahnya penggunaan kendaraan umum,” imbuh Reza.

Ia menuturkan bahwa hal tersebut menunjukkan di Jakarta, warga naik kendaraan apapun salah. Jumlah kendaraan umum masih tak mampu mengakomodasi padatnya penduduk di Jakarta.

“Kemacetan lalu lintas yang berkelanjutan menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan degradasi lingkungan,” tutup Reza.

Pada kesempatan berbeda, perkembangan pembangunan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung berada dalam kondisi positif sampai sekarang ini.

Pada Desember 2016 lalu, pembebasan lahannya masih empat persen dan rencananya akan selesai 100 persen pada Juni 2017.

“Tol Cimanggis-Cibitung positif baik fisik, lahan dan serapan anggarannya serta progresnya meningkat dari waktu ke waktu,” jelas Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna, kepada pers, Jumat (24/2).