Yakin Gak Mau Beli, Rusun Murah, Strategis dan Nyaman di Jakarta?
ilustrasi (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pembangunan rusun terintegrasi pasar di Jakarta merupakan terobosan untuk pasokan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Ini sekaligus usaha untuk merevitalisasi pasar tradisional di Jakarta yang kondisinya tak bagus.

Rusun terintegrasi pasar yang dibangun di Pasar Rumput di Jl Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan. Targetnya rusun tersebut bisa beroperasi pada Desember 2018.

Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Rusun Pasar Rumput dibangun 3 tower setinggi 25 lantai.

“Di sini akan menyediakan hampir 2 ribu unit rusun yang prioritasnya untuk warga yang terdampak normalisasi sungai,” tuturnya saat meninjau Rusun Pasar Rumput, baru-baru ini.

Meski prioritasnya untuk masyarakat terdampak normalisasi, warga lain khususnya dari luar Jakarta namun yang beraktifitas di Ibukota boleh menempati rusun ini.

Konsep Rusun Pasar Rumput didesain sebagai hunian sewa dengan tarif murah sebab disubsidi Pemprov DKI Jakarta.

Pembangunan rusun di pusat kota dan terintegrasi dengan pasar rusun tersebut akan meminimalisir pengeluaran penghuni termasuk ongkos transportasi.

Penghuni gratis naik Transjakarta dan menerima fasilitas kesehatan, pendidikan, dan bahan pangan. Para pedagang pasar juga lebih efisien sebab lokasi usahanya di bawah tempat tinggalnya.

“Unitnya berukuran 36 m2 cocok untuk keluarga muda yang baru bekerja. Penghuni harus rajin menabung karena untuk sehari-hari sudah mendapatkan banyak kemudahan. Nanti kalau ekonominya sudah meningkat mereka bisa pindah ke properti hak milik karena di sini sistemnya sewa,” ucapnya.

Selain itu, pada kesempatan berbeda, Program pembangunan sejuta rumah sudah mulai memperoleh respon pemerintah daerah.

Salah satunya Pemkot Tangerang, Banten, dengan menyediakan lahan seluas 35 hektar di Rawa Kucing, Neglasari, Tangerang, untuk dibangun rumah susun sewa (rusunawa). Lokasinya adalah tempat pembuangan sampah Akhir (TPA).

Pemkot Tangerang telah meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun rusunawa di tempat itu.

“Pembangunan rusunawa yang dilakukan PUPR sangat membantu pemerintah daerah untuk menata wilayah. Dengan bangunan vertikal bisa lebih banyak masyarakat yang terlayani huniannya, makanya kami minta untuk TPA Rawa Kucing ini dibangun rusunawa karena aktivitas di sini menampung sampah mencapai 1.200 ton setiap harinya,” cetus Walikota Tangerang Arief R. Wismansyah, dalam audiensi dengan Dirjen Penyediaan Perumahan PUPR, di Jakarta.

Pemkot Tangerang sendiri memprogramkan penataan kawasan TPA Rawa Kucing dengan program penghijauan.

Revitalisasi kawasan tersebut dinilai mendesak, sebab dikhawatirkan terjadinya longsor sampah dengan volumenya yang besar.

Pembangunan rusunawa rencananya diintegrasikan dengan program revitalisasi kawasan ini. Di TPA Rawa Kucing ada sekitar 100 KK yang bekerja sebagai pemilah dan pemulung sampah.