• Inapex

    Ternyata Ini, Rahasia Dibalik Potensi Investasi Properti di Semarang

  • Oleh
  • Selasa, 07 Nov 2017
  • Tidak Ada Kata Putus Asa Untuk Membeli Rumah Impian

    Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Ternyata ini rahasia dibalik potensi investasi properti di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya, bisnis property yang terus menggeliat sejak tiga tahun terakhir, mendapat sorotan khusus bagi para investor.

    Fakta tersebut, dibuktikan dengan berbagai pengembangan mulai dari apartemen, hotel, pusat belanja, perkantoran, hingga pergudangan dan kawasan industri.

    Sedikitnya terdapat 37 proyek properti baru yang sudah dan sedang dikembangkan di jantung Provinsi  Jawa Tengah ini. Sebanyak 14 di antaranya merupakan proyek multifungsi dengan nilai investasi serentang Rp 350 miliar hingga Rp 1,5 triliun.

    Pertumbuhan proyek tersebut dibangun tidak saja oleh developer lokal saja, namun juga melibatkan sejumlah pengembang raksasa properti Nasional seperti Lippo Group, Sinarmas Land Group, dan Ciputra Group.

    Tak hanya itu, beberapa pengembang BUMN juga ikut terpincut berburu pundi di Kota Semarang. Sebut saja PT HK Realtindo yang membangun HAKA Hotel, PT PP Properti Tbk membesut apartemen 7 menara bertajuk Amartha View, dan PT Adhi Persada Properti (APP) menggarap rumah toko, kios, dan hotel Grand Dhika.

    Kemudian bagaimana pengembang raksasa tersebut bisa saling berebut untuk menjadikan Kota Semarang sebagai potensi  lokasi yang patut diperhitungkan?

    Untuk perkantoran tarif sewa naik 7,63 persen menjadi Rp 171.002 per meter persegi per bulan dari kuartal sebelumnya Rp 158.663 per meter persegi per bulan. Kemudian, pasokan baru sekitar 57.392 meter persegi dengan tingkat hunian 95,8 persen atau turun 1,81 persen.

    Hasil riset Bank Indonesia (BI) menyebutkan, perkembangan harga properti komersial dan residensial per kuartal III-2015 mungkin bisa menjadi jawaban aktual. BI mencatat, Kota Semarang tumbuh sangat pesat sehingga harga residensial tertinggi di Pulau Jawa dengan angka rerata 10,35 persen.

    Kota ini hanya kalah dari Makassar, dan Batam di level nasional yang masing-masing membukukan kenaikan rerata 12,94 persen, dan 11,07 persen.

    Sedangkan perkembangan properti komersial, terutama untuk disegmen perkantoran, apartemen, hotel, dan kawasan industri, Semarang cenderung menunjukkan harga yang cukup stabil.

    Untuk perkantoran tarif sewa naik 7,63 persen menjadi Rp 171.002 per meter persegi per bulan dari kuartal sebelumnya Rp 158.663 per meter persegi per bulan. Kemudian, pasokan baru sekitar 57.392 meter persegi dengan tingkat hunian 95,8 persen atau turun 1,81 persen.

    Di sektor apartemen sewa, dari total pasokan sebanyak 4.999 unit, sebanyak 79,37 persen di antaranya tersewa tarif rerata Rp 18,6 juta per meter persegi per bulan. Selanjutnya, untuk sektor hotel, dari 3.954 unit kamar atau tumbuh 2,87 persen, dihuni dengan angka rerata 57,64 persen.

    Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

     

    Baca Juga :
    Strateginya Beda Jika Mau Beli Rumah Kedua

    Sementara ritel dan kawasan industri memperlihatkan kenaikan harga signifikan masing-masing 6,93 persen dan 11,20 persen menjadi Rp 493.075 per meter persegi perbulan dan Rp 2.015.518 per meter persegi.

    Direktur Operasional PT PP Properti Tbk, Galih Saksono membenarkan, Semarang dalam dua hingga tiga tahun terakhir berkembang sangat dinamis. Menurutnya, dinamika itu direpresentasikan melalui perubahan atau pergeseran berinvestasi.

    “Jika sebelumnya orang-orang Semarang lebih save menanamkan uangnya di bank dalam bentuk tabungan dan deposito, serta emas. Kini mereka mulai beralih berinvestasi di sektor properti,” kata Galih, belum lama ini.

    Galih menambahkan, peralihan perilaku investasi ini ternyata sangat mendorong pertumbuhan harga semakin tinggi. Ia mengkau, pihaknya telah menyiapkan kenaikan harga untuk produk terbarunya, Amartha View menjadi Rp 14 juta per meter persegi sejak awal tahun 2016 lalu.

    Strategi penerapan harga (pricing) ini ditempuh disebabkan tingkat penjualan sudah mencapai 200 unit dari total 789 yang dipasarkan pada peluncuran perdana.

    Harga awal dipatok Rp 10 juta per meter persegi atau sekitar Rp 200 juta hingga Rp 500 juta per unit untuk ukuran 22 meter persegi-44 meter per segi.

    Selain jenis hunian, terutama apartemen, Semarang juga potensial untuk bisnis pergudangan dan kawasan industri. Direktur Properti PT Adhi Persada Properti (APP) Pulung Prahasto mengatakan, rumah toko dan pergudangan yang dibesut perusahaan, Grand Dhika Commercial Estate, laku terserap pasar kurang dari satu tahun.

    “Industri manufaktur, logistik, dan consummer goods serta industri pengolahan makanan membutuhkan gudang penyimpanan. Ini yang kemudian produk kami disambut antusias,” katanya.

    Semarang, lanjut dia, sangat strategis. Lokasinya berada dijalur lintasan Jakarta-Surabaya. Selain itu, ibu kota Jawa Tengah ini juga lintas distribusi barang dan jasa ke wilayah Jawa Tengah, dan Yogyakarta di bagian selatan.

    Oleh sabab itu, wilayah tangkapan atau catchment area yang disasar para pengembang lebih luas. Selain Semarang dan sekitarnya juga Pekalongan, Tegal, Brebes, Jepara, Solo, dan Yogyakarta.

    Dengan luasnya wilayah tangkapan ini, diproyeksikan Semarang sebagai alternatif bagi Jakarta untuk bisnis kawasan industri dan pergudangan.

    Alasan itulah, PT PP Properti Tbk kemudian berani memasang target senilai Rp 550 miliar dari dua menara Amartha View yang dikembangkannya.

    “Pembelinya dari area-area yang disebut di atas. Mereka investor, end user, dan pebisnis yang punya usaha di kawasan industri Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya,” pungkas Galih.