Ternyata Ada Kesamaan Susahnya Mencari Rumah dan Jodoh!
Ilustrasi (Foto: awallpapaersimages)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sulitnya membeli rumah mulai dari dana, itu bukanlah hal yang mengagetkan. Namun, terbayangkah Anda ternyata ada kesamaan susahnya mencari rumah dan jodoh. Mengapa disamakan dengan pasangan hidup yang tentu dari wujudnya saja sudah berbeda?

Kebingungan ini lah yang sering kali dirasakan para generasi milenial yang tengah mencari rumah pertama. Generasi milenial yang berusia di bawah 34 tahun, adalah kelompok potensial yang condong diincar para pengembang.

Mengapa demikian? Pengamat Ekonomi dari Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan bahwa sekitar 60 persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah kelompok generasi milenial.

“Usia segini mereka masih dalam masa pencarian rumah,” jelas Agustinus dalam sebuah diskusi di Jakarta, baru-baru ini.

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah kelompok ini umumnya memiliki pendapatan yang tak terlalu besar. Persoalan tersebut ditambah dengan kondisi perekonomian global yang tak terlalu baik, yang berdampak pada kondisi perekonomian dalam negeri.

Agustinus menuturkan bahwa persoalan yang diterpa genereasi milenial ini merupakan salah satu faktor yang membuat mereka sulit dalam mencari rumah. Ibaratnya, di satu sisi, mereka sudah cocok dengan harga yang ditawarkan. Akan tetapi, mereka tidak suka dengan lokasi perumahan itu atau bahkan unitnya sudah habis.

Atau mungkin posisi itu dibalik. Calon pembeli sudah menyukai dengan lokasi dan segala fasilitas yang ada. Namun, harga yang ditawarkan pengembang sangat tinggi.

“Karena ibaratnya membeli rumah itu derajatnya sama seperti memilih pasangan hidup. Susah itu. Sudah cocok, dianya nggak mau,” jelas dia.

Baginya, persoalan ini sebenarnya bisa diakali dengan adanya informasi yang mendalam dan spesifik yang diberikan penjual kepada calon pembeli. Dengan begitu, sebelum memutuskan apakah ingin membeli atau tidak, mereka telah memperoleh gambaran yang utuh.

Misalnya informasi terkait spesifikasi rumah, jumlah kamar, taman, kamar mandi, jenis bahan bangunan yang digunakan, sampai parit. Atau fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada di sekitar lokasi perumahan, misalnya transportasi publik, sekolah, pusat perbelanjaan, serta pasar.

“Kalau itu disediakan dalam sebuah platform, ini menurut saya jadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi in elastisity, tidak elastisnya permintaan tadi. Kan permintaan banyak, kemampuan nggak ada,” tuntas dia.