PUPR Bayar Tagihan Toni Ruttimann Bangun Jembatan di Pelosok Negeri
Jembatan di Pelosok Negeri(Foto: konzeptpr)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memiliki komitmen untuk menepati janji untuk membayar tagihan demurrage (batas waktu kontainer) atas tiga kontainer wirerope yang didatangkan oleh Toni Ruttimann.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto membenarkan hal ini kepada pers, Kamis (6/10). “Kami akan membayar semua denda dan biaya pelabuhan. Kami sedang menunggu invoice (tagihan) akhir,” papar Arie.

Komitmen tersebut, tambah Arie, adalah bentuk apresiasi dan dorongan Kementerian PUPR terhadap Toni Ruttimann selaku relawan asing yang sudah membantu membangun 61 jembatan secara swadaya di Indonesia.

Adapun jumlah biaya tagihan demurrage per 26 September 2016 Toni diketahui sebesar Rp195.650.000. Tidak hanya membayar seluruh denda dan biaya pelabuhan, Kementerian PUPR juga akan menyediakan pendamping untuk Toni dan tim relawan hingga seluruh aktivitas pembangunan jembatan secara swadaya berjalan lancar.

“Termasuk pasca-konstruksinya,” kata Arie.

Arie menuturkan bahwa Kementerian PUPR siap menyelesaikan masalah dan mendukung aktivitas Toni dan relawan-relawan apabila menghadapi masalah di lapangan. Satu di antara kendala ini ialah penjaminan ke Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Nama Toni Ruttimann dan kisah heroiknya dalam membangun jembatan secara swadaya naik setelah sosiolog Imam B Prasodjo menuliskan sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya tentang sosok relawan asal Swiss ini.

Imam menceritakan usaha sukarela Toni yang masuk keluar kampung wilayah terpencil di Indonesia secara diam-diam. Selama tiga tahun, Toni mengajak masyarakat bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri sebab akses jalan terputus.

Dalam kisahnya tersebut, Imam juga mengunggah foto Toni dan beberapa warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Foto lainnya menampilkan beberapa anak yang menggunakan seragam sekolah dasar, bergelantungan di jembatan rusak untuk bisa menyeberangi sebuah sungai.

“Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyeberangi sungai dengan jembatan yang rusak,” jelas Imam, dalam akun Facebook-nya, yang dikutip media atas seizin Imam, Rabu (28/9).

Melihat kondisi ini, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Dia juga mengerjakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya dikenal baik oleh Toni supaya bersedia mengirimkan bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina menuju Indonesia.

Toni merekrut sejumlah tenaga kerja Indonesia untuk dijadikan staf dan mengerjakan seluruh usaha ini. “Saat ini, seorang pemuda bernama Suntana dengan setia membantu misi kemanusiaan Toni,” jelas Imam.

Dengan cara seperti itu, Toni sudah berhasil memasang 61 jembatan gantung di beberapa daerah, seperti Jabar, Jateng, Jatim, Banten, dan juga wilayah Maluku Utara, Sulawesi, dan NTT.

(kps)