Tak Perlu Ke Brasil, Indonesia Juga Punya Kampung Berwarna
Kampung warna-warni (foto: jeepbromo)

MALANG, INAPEX.co.id, – Mempercantik permukiman padat merupakan salah satu alternatif untuk mengembangkan kampung tersebut. Alih-alih menggusur atau menghancurkan permukiman ini, masyarakat malah menghias kampung dengan warna-warna terang dan mencolok supaya terlihat menarik dan cantik.

Proyek ‘favelas’ di Rio de Janeiro, Brasil dan proyek permukiman di pegunungan La Trinidad, Benguet, merupakan salah satu provinsi di Pulau Luzon, Filipina Utara adalah dua contoh penampilan instalasi mural warna-warni jadi solusi pengembangan kawasan permukiman.

Sekitar 170 rumah di lereng bukit La Trinidad sudah ditutupi dengan warna-warna cerah dan instalasi mural.

Indonesia juga tidak mau ketinggalan, sebuah permukiman di Malang, Jawa Timur yaitu Kampung Jodipan sudah dihias banyak warna cerah layaknya favelas di Rio de Janeiro dan di La Trinidad.

Para penduduk kampung warna-warni yang tinggal di pinggiran aliran Sungai Brantas tersebut diapresiasi pemerintah karena sudah berhasil mempercantik permukimannya dan terus menjaga kebersihan sungai.

“Ini salah satu contoh kampung yang berkembang,” papar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dalam siaran pers yang diterima pers, baru-baru ini.

Menurut Basuki, kawasan permukiman di pinggir sungai tidak selamanya selalu berkonotasi negatif dan dinilai sebagai kawasan kumuh.

Selama tak melanggar peraturan yang ada, kawasan permukiman di bantaran sungai dianggap Basuki dapat dijadikan sebagai kawasan wisata.

“Iya, memungkinkan kawasan pinggir sungai dijadikan kawasan wisata. Itu di banjir kanal barat Semarang ada ampli teaternya, ya syaratnya bangunan yang tidak permanen mestinya,” jelasnya.

Walau demikian, Basuki mengingatkan bahwa pihaknya bersama dengan Perum Jasa Tirta akan menjalankan evaluasi ulang dalam bentuk rekomendasi pada seluruh permukiman yang terletak di pinggiran Sungai Brantas.

Dari hasil evaluasi sementara yang dijalankan Basuki, Kampung Warna-Warni Jodipan masih belum menyalahi aturan petunjuk batas minimal dasar bangunan di kawasan rawan banjir.

“Ini saya cek, masih di batas banjir tertinggi, ini nanti akan dievaluasi lagi, dengan jasa tirta dan UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) sebagai penggagas kampung ini,” tambahnya.

Pihak Kampung Warna-Warni Jodipan pun berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan terkait sanitasi untuk tempat tinggalnya.

“Harapan kami semua masyarakat di sini punya semacam IPAL terpadu, seperti septic tank terpadu jadi limbah yang keluar tinggal airnya saja. Jadi tidak ada limbah tinja ke sungai, ini harapan kami,” imbuh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kampung Jodipan Rosyidi.

(kps)