Tahun 2017, Kondisi Properti Diprediksi Membaik
Properti di Indonesia (foto: sekedarinfo)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Selama empat tahun terakhir sektor properti menghadapi masa-masa paling sulit. Perlambatan sangat parah terjadi di tahun 2014-2015. Prediksi selanjutnya di tahun 2017 bisa membaik.

Kalangan pengembang sebelumnya juga memprediksi kondisi tersebut akan membaik pada tahun 2016, namun ternyata tak terbukti. Riset yang dijalankan Indonesia Property Watch (IPW) menunjukkan pada 7 kota besar di Indonesia.

Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda menilai pada akhir semester II tahun 2017 keadaannya bisa pulih kembali. Hal tersebut berdasarkan keyakinan pada siklus properti bahwa sesudah berada di titik paling bawah pada fase selanjutnya akan kembali naik.

“Sekarang saatnya turning point, mulai semester II 2016 dan seterusnya. Banyaknya stimulus dari pemerintah juga akan mempercepat pemulihan sektor properti,” papar Ali kepada pers di Jakarta, Senin (26/9).

Ali mengatakan meski pasar properti pada umum masih belum membaik, namun jumlah yang ditransaksikan naik sebanyak 3,2 persen. Kenaikan tersebut kontribusi dari penjualan segmen menengah bawah yang permintaannya selalu tinggi.

Potensi pasar terbesar di segmen menengah sebab sebanyak 40 persen penduduk Indonesia  berpendapatan Rp5 – 20 juta per bulan. Oleh sebab itu, penurunan permintaan dialami segmen menengah ke atas, bukan menengah ke bawah.

“Pada triwulan ketiga 2016 prediksi saya (jumlah unit yang terjual) bisa naik lagi. Sekarang seharusnya sudah naik, paling tidak setelah Maret 2017 properti akan lebih menggeliat,” jelasnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, kondisi pasar properti di Jawa Barat belum bergerak naik seperti daerah lain di Indonesia.

Menurut Ketua Realestat Indonesia (REI) Jawa Barat (Jabar), Irfan Firmansyah, hanya beberapa kawasan yang penjualannya terbilang bagus. Kawasan tersebut meliputi Bekasi, sejumlah kawasan di Kota Bandung, dan Jatinangor.

“Di Bekasi yang pasarnya bagus hunian seharga Rp400 -500 juta. Rumah masih menjadi pilihan utama setelah itu apartemen yang peminatnya makin meningkat,” jelas Irfan kepada pers di Bandung, belum lama ini.

Irfan menjelaskan bahwa pasar apartemen di Bandung sekarang ini cukup tertekan, pasokannya banyak namun berbanding terbalik dengan permintaannya yang kurang. Penjualan yang cukup bagus yaitu apartemen-apartemen yang dipasarkan sejak dua tahun lalu.

Pembeli apartemen di Bandung didominasi oleh masyarakat dari Jakarta, sedangkan untuk warga Bandung sendiri kurang berminat. Menurut Irfan, apartemen tersebut dibeli untuk kebutuhan, misalnya untuk libur di akhir minggu atau ditempati anaknya yang tengah berkuliah, serta untuk investasi.

Tidak hanya Bandung, kawasan lain yang diminati investor ialah Jatinangor. Di kawasan ini banyak kampus besar yang tentu ada ribuan mahasiswa bisa dijadikan captive market penyewaan.  Mayoritas konsumen adalah orang tua mahasiswa yang membeli untuk ditempati anaknya.