Presiden Jokowi dalam sidang kabinet.
Presiden Jokowi dalam sidang kabinet.

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja usai menghadiri agenda pertemuan G20 dan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, serta melihat perebutan kue ekonomi dunia.

Beberapa pimpinan negara ikut hadir dalam pertemuan itu melalui agenda kepentingan masing-masing. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi juga melihat adanya pertarungan yang sangat sengit dari negara lain, khususnya untuk memperebutkan kue ekonomi dunia.

“Dari pertemuan – pertemuan dengan kepala negara pemerintahan baik di G20 maupun di ASEAN summit sangat keliatan sekali betapa sekarang ini persaingan antar negara sangat sengit,” kata Presiden Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (9/9).

Lebih lanjut dikatakan Jokowi, betapa kompetisi antara negara sangat sengit serta pertarungan antar negara yang merebutkan kue ekonomi baik berupa investasi baik berupa uang masuk arus modal.

Oleh sebab itu, masih dikatakan Jokowi, sangat penting untuk menentuk fokus dari perekonomian Indonesia agar bisa bersaing dan memenangkan pertarungan dengan negara lain.

“Kita harus menentukan dan harus fokus apa yang akan jadi core ekonomi kita core bisnis negara kita. Karena dengan itulah kita bisa bangun positioning kita bisa membangun diferensiasi kita. Kita bisa membangun brand negara sehingga mudah kita menyelesaikan persoalan tanpa harus kita kejar-kejaran apalagi kalah bersaing,” ujarnya.

Kemudian, Jokowi meminta Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menceritakan perjalanan ekonomi Indonesia sejak merdeka. Menurutnya para menteri dapat melihat kondisi yang harus diwaspadai.

“Saya kira nanti pak Wapres akan menceritakan Perjalanan. 71 tahun ekonomi Indonesia akan kita lihat sebetulnya dimana yang harus diperbaiki dimana yang harus kita waspadai. Saya kira akan kelihatan sekali kalau nanti sudah disampaikan,” kata Jokowi.

Terlepas itu, kendisi perekonomian berulang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ketika pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan melalui perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus kembali dikoreksi ke bawah dipertengahan tahun.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, tidak ingin persoalan itu kembali terulang pada tahun depan. Asumsi pertumbuhan ekonomi 5,1% di 2017, diharapkan bisa terealisasi atau mampu mencapai diatas target pada akhir tahun mendatang.

“Saya sangat setuju, yang kita nggak ingin ulangi ada revisi pemotongan ke bawah,” tegas Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta.

Kendati demikian, Sri Mulyani mengaku sebenarnya tidak tertutup kemungkinan ada kondisi yang luar biasa dari perekonomian global. Namun, kondisi itu memang harus memaksa ekonomi Indonesia tumbuh di bawah harapan.

Sri Mulyani tetap optimistis kondisi perekonomian akan selalu kondusif, terutama yang berada dalam kontrol pemerintah. “Kalau pun revisi, saya harapkan ada revisi ke atas,” jelasnya.