Rumah Murah Sebenarnya Untuk MBR atau Kelas Menengah?
Rumah Murah Untuk MBR atau Kelas Menengah? (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Menurut Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, Program FLPP biasanya jadi kedok bagi pengembang untuk menjual rumah komersial dengan skema peningkatan “spek” atau mutu.

Pasalnya, mencari rumah murah yang layak huni dan dekat pusat kota terbilang tak mudah.

Jika ingin rumah bagus, layak dan dekat pusat kota, harganya pasti mahal. Di sisi lain, apabila ingin rumah murah, harganya sudah tak terjangkau lagi.

Walaupun pemerintah sudah menyediakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), harga rumah tak mengalami penurunan sehingga sulit diakses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Ada satu istilah namanya peningkatan spek. Rumah FLPP atau subsidi dibuat lebih bagus. Lah, jadi rumahnya harga Rp.200 jutaan, tapi ikut Kredit Pemilikan Rumah (KPR) FLPP,” imbuh Jehansyah kepada pers, belum lama ini.

Ia mencontohkan, jika memotong harga rumah Rp.120 juta dari subsidi FLPP, sisanya senilai Rp.100 juta dibayar dengan cicilan dari pembeli ke pengembang. Tenornya dapat disesuaikan beberapa tahun.

Selain pengembang, pembeli juga memperoleh keuntungan dengan skema KPR FLPP. Pasalnya, pembeli hanya membayar cicilan dengan bunga 5 persen, tenor 20 tahun, dan uang muka sebesar Rp.4 juta.

Dengan cara seperti ini, masyarakat berpenghasilan menengah mengakses rumah untuk MBR yang berarti program FLPP tak tepat sasaran.

“Saya menduga, FLPP yang dikucurkan selama ini lebih dari 50 persen tidak tepat sasaran. Keluarga yang beli di pinggiran kota, adalah mereka yang punya mobil bagus,” papar Jehansyah.

Masyarakat berpenghasilan menengah tersebut, tambah dia, memperoleh gaji sekitar Rp.7 juta – Rp.8 juta per bulan.

Jumlah masyarakat kelas menengah sangat besar, terlebih saat ini tengah tumbuh di Indonesia. Strategi masyarakat kelas ini, yaitu mengikuti Program FLPP, maka bisa sekaligus mencicil mobil.

Jehansyah mengatakan bahwa hal ini berdasarkan penelitian di ITB dari beberapa kasus, salah satunya rumah FLPP yang dijual di Bandung Selatan.

“Di Bandung Selatan, pembeli dapat rumah FLPP. Begitu dihuni, rumahnya jadi bertingkat, finishing mewah. Ada juga yang 2 kavling. Ini enggak pernah dievaluasi oleh pemerintah,” papar Jehansyah.

Berdasarkan penelusuran, tidak hanya Bandung Selatan, rumah FLPP dengan peningkatan mutu tersebut juga ditemukan di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Setu.

Dalam iklannya, rumah ini dijual seharga Rp.133,5 juta dengan peningkatan mutu mulai Rp.16,5 juta sampai Rp.31,5 juta, sehingga totalnya mencapai Rp.165 juta.

Pembeli rumah tipe 29/60 ini diharuskan membayar peningkatan mutu bersamaan dengan uang muka senilai Rp.7 juta.

(kps)