• Inapex

    Relaksasi Bobot Risiko KPR, OJK Diminta Perpanjang Hitungan

  • Oleh
  • Senin, 25 Sep 2017
  • Direktur Consumer BTN, Handayani. (Foto: Mas Kendi)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id –  Relaksasi bobot risiko Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi, Otoritas Jasa Kuangan (OJK) diminta perpanjang hitungan.

    Perpanjangan relaksasi terkait aset tertimbang menurut risiko (ATMR) KPR subdisi ini diprediksi, diperlukan bank agar tetap optimal mendukung Program Sejuta Rumah dari pemerintah.

    “Kami sudah bersurat ke OJK. Memang sesuai ketentuan Oktober 2017 ini, relaksasi bobot risiko KPR subdisi selesai,” kata Handayani Direktur Konsumer BTN, di Jakarta, baru-baru ini.

    Selain itu, Handayani juga berharap kepada OJK agar relaksasi ATMR KPR subsidi 20% ini diperpanjang selama satu tahun kedepan. Ini mempertimbangkan kondisi kualitas kredit yang masih menantang ke depan.

    Selama ini, BTN menikmati relaksasi bobot risiko KPR segmen subsidi. Normalnya, ATMR kredit KPR yang berlaku di bank umum sebesar 35%. Namun, mempertimbangkan peran BTN di Program Satu Juta Rumah, regulator pada 2015 memberikan keringanan ATMR sebesar 20% untuk KPR subdidi.

    Dengan relaksasi ini, BTN bisa mempunyai permodalan yang cukup untuk melakukan penyaluran kredit KPR terutama subsidi. Karena semakin besar ATMR kredit, bank harus mengalokasikan rasio permodalan tertentu untuk penyaluran kredit.

    Dengan berakhirnya relaksasi ATMR ini diproyeksi BTN harus mengalokasikan permodalan yang lebih besar untuk menyalurkan KPR subsidi. Hal ini, menurut Handayani, bisa menurunkan rasio permodalan atau CAR, sehingga berpotensi berpengaruh ke kinerja BTN.

    Baca Juga :
    Inilah Cara Pengajuan KPR BTN Subsidi

    Mahelan Prabantarikso, Managing Director Strategy, Compliance, & Risk BTN menghitung, capital adequate ratio (CAR) BTN ke depan berpotensi turun 1,5% jika relaksasi ATMR selesai. “Untuk mengatasi ini, BTN akan mengeluarkan subdebt (obligasi subordinasi) Rp 3 triliun pada tahun depan,” kata Mahelan.

    Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat rekor kredit KPR pada Juli 2017. Sampai Juli 2017 pertumbuhan kredit KPR sebesar 8,59% atau lebih tinggi dari pertumbuhan pembiayaan industri perbankan 8,2%.

    Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Filianingsih Hendarta mengatakan, pertumbuhan kredit KPR per Juli 2017 merupakan tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

    “Dalam 24 bulan terakhir baru sekarang pertumbuhan kredit KPR di atas pertumbuhan kredit industri,” kata Fili.

    Rekor pertumbuhan KPR ini, menurut Fili, menunjukkan dampak dari relaksasi rasio LTV yang dikeluarkan BI pada kuartal III 2016 lalu sudah mulai terasa.

    Menurut Fili, pada Agustus 2017 pertumbuhan kredit KPR tercatat lebih tinggi dari Juli. Pertumbuhan KPR ini terjadi di hampir semua tipe rumah yaitu KPR tipe 70-22 dan apartemen. Namun khusus untuk ruko dan rukan pertumbuhan kreditnya masih belum sekencang KPR dan apartemen biasa.