Dirut Bank BTN Maryono dan Ketua DPD REI DKI Amran Nukman saat meninjau booth pameran Indoneisa Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id –  Hingga akan berujungnya tahun 2017 ini, kebutuhan akan hunian rumah tinggal bagi warga masyarakat khususnya yang tinggal di DKI Jakarta masih cukup tinggi. Kebutuhan akan hunian itu, menurut Ketua REI DKI Jakarta, Amran Nukman, tidak termasuk kebutuhan hunian di daerah kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tanggeran dan Bekasi (Bodetabek).

Backlog perumahan di Jakarta saja sekitar 300 ribu unit, tingginya backlog hunian tersebut mendorong para pengembang properti terus membangun proyek di Jakarta. Konsep pengembangan pun tak sebatas hunian, namun juga properti terpadu. Sementara itu, untuk jenis hunian di Jakarta cenderung pembangunan hunian vertikal seperti rusunami, mengingat harga lahan yang sudah tinggi di Jakarta,”ujar Amran Nukman, Belum lama ini.

Secara terpisah, Dirut Graha Azura Group Arvin Iskandar, merasa optimis, khususnya prospek pembangunan hunian bagi segmen menengah kebawah.

“Saya contohkan, dari pembangunan hunian vertikal yang dibangun Graha Azura Group di kawasan Jakarta Timur, sudah direspons masyarakat cukup baik. Hingga kini, dari 200 unit, sebanyak 60%-nya sudah terjual. Mayoritas pembeli merupakan end user,” papar dia.

Sementara itu, Direktur Pemasaran APP Wahyuni Sutantri mengemukakan, hunian yang menjadi tren di Jabotadetabek adalah yang terkoneksi oleh moda transportasi, seperti LRT, busway, MRT, dan kereta api.

“Masyarakat, ingin lebih cepat dan lebih nyaman sampai ke tempat tujuan. Itu sebabnya, APP meluncurkan LRT Superblock Cikunir 1 dengan nama The Conexio LRT Superblock dan di Cikunir 2.

Lain lagi dengan prediksi Senior Research Analyst BCI Asia, Gusti Rahayu Anwar. Menurut dia, nilai konstruksi hunian di Indonesia pada 2018 diperkirakan naik tipis sebesar 1,28% dari tahun sebelumnya. Sektor ini masih menjadi kontributor terbesar bisnis konstruksi gedung di Indonesia tahun depan, yakni sekitar 41% dari total Rp 157,5 triliun.

“Jika dilihat dari nilai konstruksi, sektor hunian mengalami pertumbuhan pada 2016 hingga 2018, walau nilai residensial pada 2016, 2017, dan 2018 lebih rendah dibandingkan pada 2015. sektor hunian masih berpotensi tumbuh, hanya saja perlu penghitungan yang cermat, terutama menyangkut berapa banyak hunian terbangun yang terhuni, untuk kemudian dikurangi kebutuhan perumahan,” papar dia.

Rahayu menambahkan, penduduk Indonesia kan sekarang hingga beberapa dekade mendatang didominasi penduduk usia produktif, sehingga kebutuhan terhadap rumah akan selalu meningkat. Hanya saja, kecenderungan penduduk produktif dan golongan menengah saat ini adalah mengundurkan pembelian rumah karena kendala uang muka (down payment/DP).

“Perubahan gaya hidup dari goods oriented ke pleasure oriented, secara sekilas juga terlihat berimbas kepada pembelian hunian. Tapi memang perlu studi lebih lanjut terkait hubungan keduanya,” tutur dia.