• Inapex

    Proyek Perumahan Subsidi Terus Menjamur, Pengusaha Tak Perlu Khawatir

  • Oleh
  • Senin, 04 Des 2017
  • Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Proyek perumahan subsidi terus menjamur, seiring terus digalakkan program satu juta rumah oleh pemerintah pusat. Namun demikian, diharapkan pengusaha properti khususnya pengembang perumahan komersil tak perlu merasa khawatir. Pengamat Bisnis Properti Toerangga Putra membenarkan, hal itu dikarenakan pangsa pasar keduanya berbeda. “Pangsa pasar subsidi kan menengah kebawah, sedangkan komersil untuk pangsa pasarnya menengah keatas, sehingga tidak mempengaruhi,” ungkap Toerangga Putra saat ditemui INAPEX.co.id, di Jakarta, Senin (4/12).

    Namun demikian, Toerangga tidak menutup kemugkinan adanya penurunan daya beli masyarakat terhadap perumahan komersil. Ia menambahkan, penyebab turunnya daya beli bukan karena adanya perumahan subsidi, melainkan disebabkan perumahan dinilai sebagai penyumbang inflasi yang cukup tinggi sehingga Pemerintah harus melakukan pembatasan.

    Untuk menyiasati persoalan tersebut, Toerangga menegaskan pihaknya juga merambah pada bisnis perumahan subsidi. “Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi sangat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan hunian. Hal itu dipicu terjadinya backlog penyediaan berbagai jenis produk real estate nasional, khususnya di kota-kota besar,” tambahnya.

    Seiring kondisi tersebut, untuk menciptakan dan sekaligus meningkatkan peluang pasar berbagai produk hunian. Diantaranya seperti, perumahan, rukos, apartemen, kondotel, villa, resort, pusat perbelanjaan, serta pertokoan dari tipe menengah sampai mewah dan rumah subsidi, kembali PT. Adhouse Clarion Event akan menyelenggarakan pameran properti reguler, Indonesia Properti Expo, pada Februari 2018 mendatang di Hall A & B Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

    Baca Juga :
    Masyarakat Indonesia Mulai Suka Tinggal di Apartemen

    Selain sebagai ajang promosi dan transaksi, Indonesia Properti Expo merupakan media yang paling efektif untuk dimanfaatkan oleh para perusahaan pengembang dalam rangka mempromosikan berbagai produk properti terbarunya kepada masyarakat konsumen. “Karena itu, dalam penyelenggaraan pameran yang ke 30 tahun ini, kembali kami mengajak perusahaan properti berpartisipasi sebagai peserta untuk meraih sukses bersama,” ujar Toerangga Putra.

    Terlepas itu, tingginya permintaan kebutuhan hunian yang diajukan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dinilai telah menggugurkan anggapan terkait rendahnya keberpihakan bank. Apalagi tudingan itu hanya dilihat dari rasio penyaluran KPR terhadap PDB Indonesia jauh lebih rendah dibadingkan negara tetangga yaitu Malaysia yang mencapai 30%.

    “Soal anggapan keberpihakan bank itu sangat tidak benar. Karena penyaluran KPR dari total nilai kredit, tidak bisa dibandingkan dengan kebutuhan perumahan di Indonesia. Apalagi diukur dari sisa pembangunan infrastruktur dan SDA, padahal faktanya peminat perumahan yang mengajukan KPR masih sangat tinggi,” tegas Toerangga Putra.