Ilustrasi apartemen. (Foto: pixabay)

BANDUNG, INAPEX.co.id – Permintaan apartemen di Jawa Barat terus meningkat. Apalagi, disektor properti pada kuartal I 2018 tumbuh hingga 5,89% (yoy). Fenomena itu terbukti dari kenaikan harga properti residensial pada periode tersebut.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Group Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Ismet Inono mengakui, pertumbuhan sektor properti terjadi pada seluruh tipe rumah. Diantaranya seperti, tipe rumah minimalis kecil, menengah, dan besar.

Menurut Ismet, masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 6,06% (yoy), 6,77% (yoy), dan 4,82% (yoy).

“Pertumbuhan sektor properti di Jabar dipicu oleh naiknya harga bahan bangunan dan upah pekerja, serta biaya perizinan yang cukup tinggi. Walaupun dilihat dari sisi volume, penjualan properti residensial pada kuartal I tahun 2018 cenderung mengalami penurunan, khususnya pada rumah tipe menengah dan tipe besar,” ujarnya, di Bandung, baru-baru ini.

Kendati demikian, masih dikatakan Ismet, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) pada kuartal I 2018 juga terlihat tumbuh hingga 0,38% (yoy).

Namun peningkatan harga itu terfokus pada segmen ritel dan apartemen. Kondisi tersebut disebabkan peningkatan harga jual pada kedua segmen itu dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Disamping itu, tingginya permintaan terhadap segmen apartemen dan perkantoran juga menjadi penyebab naiknya harga properti komersial. Adapun indeks permintaan properti komersial dan indeks pasokan properti komersial, masing-masing tumbuh 1,89% (yoy) dan 3,31% (yoy),” papar Ismet.

Pembiayaan properti residensial, menurut Ismet, mayoritas dilakukan lewat mekanisme Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sementara itu, pada kuartal I 2018, total penyaluran KPR oleh perbankan di Provinsi Jawa Barat dalam pembukuan meningkat menjadi Rp112,05 triliun atau tumbuh sebesar 15,91% (yoy).

Kemudian, penurunan suku bunga kredit dari 11,02% pada kuartal sebelumnya menurun 10,89% pada kuartal ini, menjadi pendorong utama meningkatnya KPR.

Selain itu, masifnya perkembangan infrastruktur di Jawa Barat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat konsumen untuk melakukan pembelian di bidang properti.

Juga optimisme terhadap penurunan suku bunga perbankan serta faktor lainnya yang mendukung fundamental sektor properti.

Tak hanya itu, kondisi tersebut juga bakal mendorong kinerja disektor properti residensial serta bisa tumbuh lebih tinggi pada kuartal II 2018.

“Kami memperkirakan, angka pertumbuhan sebesar 6,95% (yoy). Walaupun secara sektoral, kinerja sektor properti residensial yang diprediksikan tumbuh lebih tinggi, khususnya terjadi pada rumah tipe kecil dan tipe menengah,” pungkasnya.