Bagi Pekerja Informal, Dapat Bantuan Uang Muka Rumah Rp.30 Juta
Pekerja Informal (foto:ant)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pola baru bantuan perumahan akan dikeluarkan pemerintah awal tahun depan. Skema baru tersebut berupa bantuan uang muka senilai Rp30 juta.

Biasanya bantuan untuk sektor perumahan lewat sistem fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dengan memberikan subsidi bunga.

Sistem baru uang muka ini adalah pilot project membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dari kalangan pekerja informal untuk mempunyai rumah.

Mereka tak bisa mengakses perbankan yang memiliki prosedur ketat dalam memberikan kredit.

“Jumlah pekerja informal cukup besar tapi bank tidak bisa menyalurkan pinjaman kepada mereka karena pertimbangan kehati-hatian. Makanya bantuan diberikan di muka, kekurangannya dicicil dengan bunga komersial,” jelas Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Perumahan (PUPR) Maurin Sitorus, kepada pers di Jakarta, Rabu (21/9).

Dalam tahap awal bantuan akan diberikan kepada 5.000 pekerja informal yang mempunyai kios meliputi pedagang dan usaha lain yang menetap. Karena menetap bank jadi lebih mudah melakukan assessment.

Sebelum diturunkan bantuan tersebut, pekerja diharuskan menabung lebih dulu selama 6-12 bulan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan mencicil.

Bantuan sebanyak Rp30 juta ditambah dengan tabungan pribadi, katakanlah Rp5 juta maka totalnya Rp35 juta, tentu telah mencukupi untuk membayar uang muka rumah bersubsidi.

Kekurangannya tersebut ditutup pinjaman dari bank dengan bunga komersial. Bantuan uang muka ini juga diperuntukan pada pekerja informal yang memiliki kemampuan mencicil namun sulit menyediakan uang muka dan akses ke perbankan.

“Dengan pola seperti ini bank mau memberikan kredit, konsumen juga akan habis-habisan mempertahankan rumahnya karena uang muka yang dibayarkan cukup besar. Kalau cicilannya bermasalah rumah akan disita bank dan dijual dengan harga banting,”  jelas Maurin.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, rumah apung di kawasan Tambak Lorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, akan dibangun dengan memakai kemajuan teknologi serta menjawab masalah lingkungan.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Umum dan Perumahan Rakyat Arie Setiadi Moerwanto menuturkan bahwa rumah apung didesain dengan konsep menyatukan kebutuhan pertemuan warga, perpustakaan sampai penyampaian informasi pembangunan proyek di kawasan ini.

“Kami akan tunjukkan ke depan problem lingkungan bisa dengan dijawab teknologi, bisa survive dengan masalah tersebut,” papar Arie, Selasa (20/9).

Pelaksana tugas Direktur Jendral Sumber Daya Air tersebut menambahkan teknologi yang akan dipakai tak seluruhnya baru.

Akan tetapi, teknologi tersebut akan berdekatan dengan jembatan apung, pemecah gelombang apung, dan lain-lain.

Lewat teknologi, kementerian menargetkan tingkat penurunan tanah dapat berkurang secara signifikan.

Sekarang ini penurunan bangunan 7,5 centimeter per tahun, akan dikurangi jadi dua centimeter per tahun.

“Teknologi kami akan kombinasi, bonton akan ada tanggul di atasnya supaya bebannya tidak terlalu berat. Jadi penurunan bangunan saat ini 7,5 per tahun, target kami turun menjadi 2 centimeter per tahun,” tambahnya.