• Inapex

    Pasar Perumahan Memiliki Efek Berantai Terhadap Ekonomi Nasional

  • Oleh
  • Selasa, 21 Nov 2017
  • Rumah Rp.100 Jutaan Kembali Dibangun Dekat Stasiun

    Ilustrasi (Foto: rumahdijual)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Rasio Kredit Perumahan Rakyat ( KPR) Indonesia yang sekarang ini hanya 2,85 persen masih menduduki peringkat terendah dunia.

    Menurut Direktur PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Heliantopo, di kawasan regional ASEAN saja, angka ini relatif rendah. Indonesia terbuncit, dan dikalahkan oleh Malaysia yang menembus angka 38,8 persen. Sementara itu, Amerika Serikat mencatat rasio KPR-nya paling tinggi mencapai 77 persen.

    “Jadi rasio KPR di Indonesia hanya 2,85 persen, kalah dengan Malaysia 38,8 persen. Amerika yang tertinggi rasio KPR-nya 77 persen. Jadi rata-rata di luar negeri, masyarakatnya sudah memiliki rumah. Kita di Indonesia, masyarakatnya masih banyak yang belum punya rumah,” ungkap Heliantopo, baru-baru ini.

    Oleh karena itu, lanjut Heliantopo, pasar perumahan yang memiliki efek berantai terhadap ekonomi nasional, perlu dimonitor dan di tingkatkan. Sehingga program pemerintah dengan satu juta rumah yang hingga sekarang ini masih berjalan, harus di percepat, karena program ini sangat bagus dan sangat di minati masyarakat.

    Secara terpisah, Hendra Hartono, CEO Leads Property Indonesia, memprediksi bila bisnis properti Indonesia akan bangkit kembali pada tiga tahun mendatang atau tahun 2020.

    “Membaiknya kondisi properti Indonesia yang belakangan ini meningkat dengan adanya program pemerintah tersebut, bisa meningkatkan permintaan kredi pemilikkan rumah kepada dunia perbankan,”jelas Heliantopo.

    Baca Juga :
    Hari Bakti PU ke 72, REI Dapat Penghargaan Mitra Terbaik 2017

    Di sisi lain, Direktur Konsumer Banking PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Randi Anto menyebut, total KPR yang telah disalurkan BRI per Agustus 2017, mencapai Rp 21 triliun dengan non performing loan atau NPL terjaga di kisaran 2,6 persen. “Total KPR year to year tumbuh 26 persen,” kata Randi Anto.

    Menurut Randi, BRI memprediksi kalau sector property akan terus tumbuh seiring kenaikan permintaan KPR. Selain itu , untuk mencapai pertumbuhan tersebut pihaknya menerapkan berbagai strategi, mulai dari promo bunga fixed dua dan tiga tahun, hingga kerja sama dengan blue chip companies dalam program pemilikan rumah.

    “Serta penetrasi lebih dalam di second and third cities, dengan memanfaatkan jaringan BRI,” pungkas Randi Anto.