Masalah Perkotaan, Rujak Center Yakin Bisa Menyadarkan Penduduk
Direktur RUJAK Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja (Foto: aedes)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kota-kota di Indonesia sekarang mempunyai banyak masalah yang nyaris sama satu dengan lainnya.

Kemacetan, sampah, dan konversi ruang terbuka hijau (RTH) jadi kawasan komersial merupakan soal klasik dan tipikal yang dialami. Selain tiga hal ini, isu perkotaan lainnya yang harus langsung diselesaikan ialah akses air bersih, transportasi publik, dan sanitasi.

“Untuk kota dengan penduduk di atas satu juta jiwa, transportasi publik harus ada. Kemudian pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, dan ketiga sanitasi atau saluran buangan air harus dibuat berbeda-beda,” papar Direktur RUJAK Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja di Hotel Le Meridien Jakarta, Senin (21/11).

Sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memantau terus isu-isu perkotaan, RUJAK Center for Urban Studies diakui Elisa sudah menjalankan beberapa hal untuk bisa paling tidak membuat penduduk perkotaan lebih sadar dengan masalah di kotanya.

Hadir di delapan kota seperti Banda Aceh, Bogor, Bandung, Tangerang Selatan, Semarang, Surabaya, Pontianak, dan Solo serta menggandeng sembilan komunitas, RUJAK Center for Urban Studies mengembangkan program bernama urbanisme warga.

“Isinya adalah bagaimana kami bersama masyarakat memproduksi pengetahuan perkotaan dan mengimplementasikannya di dalam kehidupan perkotaan,” tutur Elisa.

Program RUJAK Center for Urban Studies lainnya yakni kota tanpa sampah yang sudah dilakukan, selain urbanisme warga di Bintaro, Tangerang Selatan.

Program kota tanpa sampah diinisiasi sebagai usaha meminimalisir sampah sampai zero waste yang akhirnya mengganti pola konsumsi warganya.

Skemanya meminimalisir sampah dari tiga pintu, yakni pertama pintu keluarga, kedua pintu komunitas seperti RT, dan ketiga di TPS-nya.

“Tujuannya bukan membuat kota yg tidak memiliki sampah tapi untuk membuat perilaku berubah dalam mengonsumsi sesuatu dan mengurangi sampah,” kata Elisa.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, tak hanya jual-beli-sewa properti yang bisa dilakukan menggunakan aplikasi online, tapi jasa buang sampah, jasa antar barang, penyewaan barang, sistem smart home, belajar bahasa asing, hingga jasa cari parkir.

Head of Indonesia Tech in Asia Indonesia Hendri Salim mengatakan bahwa pertumbuhan usaha start up dan e-commerce di Indonesia semakin terlihat pertumbuhannya.

Sampai kuartal kedua tahun 2016 saja investasi yang telah masuk sebanyak Rp.2,09 triliun dan jumlah tersebut terus meningkat dari tahun lalu sekitar Rp.1,02 triliun.

Selain itu, ada aplikasi yang dapat menyewakan apapun produk yang diinginkan pembeli mulai apartemen, rumah, kendaraan, kamera, peralatan memasak, peralatan bayi, elektronik, dan lainnya. Untuk membuat rumah Anda menjadi smart home juga bisa dilakukan hanya dengan memakai aplikasi.

(kps/he)