Mal di Balikpapan Promosinya Gelar Flashmob
Flashmob (Foto: steinigke)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Direktur Utama PT Hasta Kreasi Mandiri, Achmad Mudjiono, membenarkan Balikpapan Ocean Square (BOS) akan mulai beroperasi akhir 2017. Anak perusahaan dari PT PP Properti Tbk mulai meluncurkan promosi.

“Saat ini masih dalam tahap renovasi di seluruh kawasan pengembangan, termasuk untuk pusat perbelanjaan, hotel (Swiss-belhotel), dan pasar modern,” papar Achmad, Selasa (21/3).

Sekarang ini, tambah dia, pihaknya memilih promosi lewat gelaran flashmob pada Car Free Day (CFD) Jalan Jend Sudirman depan Lapangan Merdeka, Balikpapan. Menurut Achmad, cara tersebut untuk lebih mendekatkan BOS kepada masyarakat, ditambah Pemkot Balikpapan telah menetapkan sebagai wadah masyarakat berolahraga di akhir pekan.

Adapun program lainnya baru akan dilaksanakan mulai Mei 2017 mendatang di area Food Avenue Mal BOS, khususnya saat pembukaan mal ini di akhir tahun nanti. Ini adalah rangkaian program revitalisasi BOS yang sebelumnya bernama Balcony City.

 

“Setelah kami akuisisi penuh dari pemilik sebelumnya, kami akan lakukan renovasi besar-besaran. Nantinya, pintu masuk untuk pasar modern, pusat belanja, dan hotel, dibuat terpisah,” ucap Direktur Komersial PPRO, Linda Gustina.

 

Linda menuturkan, selain BOS, PP Properti sekarang juga tengah mempersiapkan empat proyek pusat belanja lainnya sebagai sumber pendapatan berkelanjutan (recurring income). Keempatnya ialah Lagoon Avenue Mall Bekasi, Lagoon Avenue Sungkon & Lagoon Avenue Dharmahusada dan Kaza City Mall Surabaya.

Sedangkan untuk hotelnya, PP Properti akan memulai pembangunan aset keempatnya di Surabaya, dan kelima di Lombok. Hotel-hotel tersebut akan dikelola sendiri oleh pengembang pelat merah ini.

“Sama dengan portofolio akomodasi kami sebelumnya di Cawang, dan Bandung, kalau yang di Balikpapan masih dikelola Swiss-belhotel,” jelas Linda.

Menanti beroperasinya pusat belanja dan hotel tersebut, PP Properti menargetkan pertumbuhan pendapatan berkelanjutan sebanyak 18 persen sampai 2019 mendatang.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, General Manager Marketing Grand Depok City, Tony Hartono menuturkan semakin terbatasnya lahan pengembangan di sekitar pusat kota Depok, yakni ruas jalan Margonda dan Lenteng Agung , membuat pengembang rumah tapak di kalangan menengah dan menengah atas memilih lokasi pengembangan ke arah selatan.

Akses di lokasi pengembangan ini lebih condong ke daerah Bogor, yaitu Kalimulya, Sawangan, dan Citayam. Sementara Margonda sebagai area pusat kota Depok, yang saat ini perlahan dipenuhi hunian vertikal.

“Sebetulnya, kalau bicara prospek investasi properti di Depok, pergerakannya tak beda jauh dengan kota penyangga lainnya seperti Cibubur, Bekasi dan Serpong. Bahkan, salah satu kelebihannya adalah tersedianya beragam transportasi dan perkembangan infrastrukturnya,” imbuh Tony.