• Inapex

    Jelang Pergantian Tahun 2018, KPR Diprediksi Tumbuh Hingga 22%

  • Oleh
  • Senin, 11 Des 2017
  • ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Menjelang pergantian tahun 2018, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diprediksi bakal tumbuh hingga 22% per tahun. Demikian pula dengan pertumbuhan laba perseroan, tahun 2017 ini ditargetkan laba bersih tumbuh dua digit sekitar 15% (yoy). Untuk tahun depan, perseroan memproyeksikan laba bersih bank yang fokus pada perumahan ini bisa tumbuh 20%.

    “Laba tahun depan di sekitar 20%, karena kami kemungkinan punya anak usaha yang unbank tapi feasible jadi bisa mendorong laba kami,” terang Direktur Strategic, Risk, and Compliance PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Mahelan Prabantarikso.

    Lebih lanjut dikatakan Mahelan Prabantarikso, untuk mendorong pertumbuhan laba, dari sisi kredit serta fee based income yang berasal dari kontribusi anak perusahaan. Selain itu, masih dikatakan¬†Mahelan Prabantarikso, menginginkan low cost funding, sehingga margin bunga bersih (net interest margin/NIM) akan meningkat yang membuat laba bisa tumbuh 20% tahun depan. “NIM tahun depan sekitar 5% lebih, atau 5,1-5,2% mudah-mudahan bisa tercapai,” paparnya.

    Dari sisi kredit, perseroan menargetkan bisa membiayai KPR dengan menggunakan pola subsidi selisih bunga (SSB) sebanyak 225 ribu unit, sedangkan KPR dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sebanyak 45 ribu unit. SSB hanya diberikan kepada pekerja tetap yang memiliki penghasilan maksimal Rp 4 juta per bulan untuk rumah bersubsidi dan maksimal Rp 7 juta per bulan untuk pembelian apartemen bersubsidi.

    Baca Juga :
    Wujudkan Program Sejuta Rumah 2018, BTN Tetap Salurkan KPR Subsidi

    Mahelan Prabantarikso menambahkan, anak usaha yang akan selesai diakuisisi adalah perusahaan pembiayaan (multifinance) PT Danareksa Finance. Saat ini masih dalam proses, diharapkan tahun depan sudah terealisasi.

    Selain perusahaan multifinance, perseroan juga akan mengakuisisi PT Danareksa Investment Management (DIM). Itulah yang diharapkan dapat memberi kontribusi bagi laba BTN. “Multifinance dulu, setelah itu perusahaan manajemen investasi karena berkaitan dengan Tapera,” kata Mahelan.

    Secara terpisah, di tahun 2018 pertumbuhan KPR justru diproyeksi tak naik secara signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun depan sekitar 11-12% (yoy). “Dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan kredit tahun depan, terdapat kemungkinan laba bersih bank tahun 2018 sekitar 2-3% lebih tinggi dari proyeksi laba tahun ini,” jelas Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Yohanes Santoso Wibowo.

    Yohanes Santoso Wibowo menambahkan, selain pendapatan bunga bersih (NII), faktor-faktor yang dapat mendorong pertumbuhan laba yaitu peningkatan kredit yang diimbangi dengan performa kredit yang bagus serta manajemen biaya yang tercermin pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Selain itu juga ditopang laba operasional yang bersifat nonbunga, seperti pendapatan berbasis komisi (fee based income).

    Di sisi lain, masih dikatakan Yohanes Santoso Wibowo, walaupun pendapatan nonoperasional berdasarkan data aktual telah tumbuh signifikan, komponen ini belum dapat dijadikan faktor pendorong laba, karena sifatnya yang tidak bisa diprediksi.