• Inapex

    Jelang Akhir 2017, Rasio NPL Kredit Rumah Tinggal Meningkat

  • Oleh
  • Rabu, 20 Des 2017
  • Cara Memanfaatkan DP Rumah KPR Yang Sedang Turun

    Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id -Menjelang akhir tahun 2017, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada kredit properti terus meningkat. Apalagi, rasio NPL untuk kredit untuk rumah tinggal, apartemen dan ruko yang diketahui juga terus bertambah. Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK menunjukkan, NPL ruko dan rukan bertengger di level 4,75% dengan pertumbuhan kredit hanya 0,09% atau Rp 27,17 triliun per September 2017.

    Kemudian, rasio NPL kredit rumah tinggal tercatat 2,81% serta, rasio NPL flat dan apartemen sebesar 2,48%. PT Bank Mandiri Tbk mengakui ada risiko tinggi pada sektor kredit properti seperti ruko, hotel dan mal. Dus, Bank Mandiri akan menghindari pembiayaan kredit ke sektor properti tersebut.

    Direktur Bank Mandiri Tardi mengatakan, risiko kredit properti non residensial masih akan tinggi di tahun depan. “Ke depan, kami lebih memilih untuk masuk ke properti residensial,” katanya, kemarin. Bank Mandiri mencatat penyaluran KPR yang cukup baik dengan pertumbuhan 15,33% atau senilai Rp 32,29 triliun per kuartal III-2017.

    Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, proyek properti masih rendah di tahun depan. Jadi, nasabah harus berhati-hati memilih pengembang dengan reputasi yang baik.

    BCA mencatat rasio NPL pada kredit perumahan naik 30 bps menjadi 1,0% per kuartal III-2017. Sedangkan, KPR tumbuh 26,8% atau menjadi Rp 78,83 triliun. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) selaku spesialis properti tidak bermain pada sektor ruko dan mal. Mayoritas kredit properti mengalir untuk KPR subsidi dan non subsidi. Adapun, NPL BTN di sektor real estat sebesar 2,94% per kuartal III-2017.

    Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui ada indikasi kelebihan pasokan (oversuplly) mal dan hotel disejumlah wilayah. Kondisi tersebut, menjadi pemicu risiko kredit bermasalah disektor properti non residensial ini berpotensi naik.

    Hal senada, dikatakan Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK Aslan Lubis, yang menyebutkan ada indikasi kelebihan pasokan mal dan hotel. “Apakah hal tersebut berpengauruh signifikan, kami belum mengumpulkan datanya,” paparnya.

    BTN sebagai bank spesialis properti mengaku tidak bermain disektor ini. “Jika sektor properti secara keseluruhan, kami masih optimis dengan pertumuhan kredit 21% di tahun ini,” kata Oni Febriarto, Direktur BTN. Hingga kuartal 3 2017, NPL disektor real estate sebesar 2,94% atau naik dari periode sama 2016 2,82%.