Ilustrasi diperagakan model. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kegagalan merupakan awal dari sebuah keberhasilan, setidaknya pepatah itu paling cocok diterapkan ketika Anda menemui kegagalan saat mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR).

Kuncinya, jangan kapok (jera,-red) serta harus terus dicoba lagi dalam mengajukan KPR kepada pihak bank. Selain itu, sebaiknya juga harus dicari tahu penyebab ditolaknya pengajuan KPR Anda, sehingga tak dikabulkan oleh bank.

Untuk informasi lebih jelasnya, datang dan kunjungi Pameran Indonesia Properti Expo yang akan diselenggarakan pada 11 – 20 Agustus 2017 mendatang, di Hall A & B – JCC Senayan. Apabila Anda merasa sudah memenuhi persyaratan dan ketentuan bank, tapi masih ditolak kemungkinan harus dievaluasi penyebab KPR ditolak.

1 – PERHITUNGAN

Perlu diperhatikan, bahwa pihak bank sudah menetapkan cicilan maksimal 35%-40% dari penghasilan bulanan. Jika Anda sudah berkeluarga, maka persentasenya dihitung dari pemasukan total suami dan istri. Nah, apakah cicilan yang Anda ajukan sudah sesuai dengan peraturan ini?

Tak hanya itu, kesalahan perhitungan juga mungkin terjadi pada pekerja freelance. Untuk pekerja freelance, bank akan meminta data pemasukan bulanan rutin dalam satu tahun.

Nantinya, cicilan maksimal tersebut kemudian akan dihitung sebesar 35%-40% dari pemasukan bulanan terkecil dalam rentang satu tahun.

Kendati rata-rata pemasukan Anda mencapai Rp7,5 Juta per bulan sebagai seorang pekerja freelance, namun jika dalam satu tahun itu pemasukan Anda ada yang hanya mencapai Rp4,7 Juta, maka persentasenya tetap dihitung dari Rp4,7 Juta.

2 – DOKUMEN

Selanjutnya, salah satu persyaratan agar pengajuan KPR berhasil yaitu dengan melampirkan sejumlah dokumen.

Kebanyakan pemohon atau calon debitur masih menyepelekan persyaratan ini, seperti KTP, NPWP, surat keterangan menikah atau cerai, dan kartu keluarga. Kondisi KTP yang sudah habis masa berlakunya juga akan membuat pihak bank berpikir ulang untuk menyetujui pengajuan KPR.

Begitu juga dengan surat keterangan status perkawinan. Seandainya Anda sudah bercerai secara agama namun belum mengurus keterangan secara hukum, bank akan sulit menerima pengajuan cicilan Anda.

3 – USIA

Kegagalan pengajuan KPR karena batas usia kerap dialami oleh calon debitur yang akan memasuki masa pensiun. Bank menetapkan usia untuk mengajukan KPR adalah minimal 21 tahun atau sudah menikah.

Pada saat kredit berakhir, maksimal berusia 55 tahun atau disesuaikan dengan usia pensiun pada perusahaan untuk pegawai dan 60 tahun untuk profesional. Jadi, semakin mendekati usia pensiun, semakin pendek masa KPR dan semakin besar jumlah cicilan.

Bisa jadi, jumlah cicilan ini pada akhirnya melebihi batas kemampuan yang ditetapkan bank, yakni 40% dari total pemasukan per bulan.

4 – BANK

Anda mungkin telah memilih salah satu bank karena tergiur tawaran kredit yang rendah. Namun, belum tentu bank ini bekerja sama dengan pengembang perumahan yang menjual rumah idaman Anda.

Ada dua pilihan bagi Anda, mengganti rumah incaran dengan rumah yang disarankan bank, atau mengganti bank sesuai dengan yang bekerja sama dengan developer rumah idaman Anda.

5 – PERFORMA

Siapa sangka keberhasilan atau kegagalan pengajuan KPR Anda ditentukan dari performa Anda secara personal pada saat bertemu pihak bank. Pihak bank lebih senang jika calon debitur berbicara sopan, jujur saat wawancara dan tidak berbelit-belit, dan penampilan yang rapi.

Selain itu, yang terpenting adalah performa Anda sebagai calon debitur. Jika Anda memiliki catatan kredit macet, seperti cicilan kendaraan, dan lain-lain, akan sangat sulit bagi Anda untuk mendapatkan cicilan dari bank. Ingat, semua data dan catatan cicilan Anda tercatat oleh Bank Indonesia dan bisa diakses oleh semua bank.