• Inapex

    Jalan-Jalan Lebih Penting Daripada Membeli Rumah, Benar Atau Salah?

  • Oleh
  • Rabu, 15 Nov 2017
  • Jalan-Jalan Lebih Penting Daripada Membeli Rumah, Benar Atau Salah?

    Ilustrasi (Foto: ist)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Jalan-jalan lebih penting daripada membeli rumah, benar atau salah?

    Pasalnya, generasi milenial usia 25-35 yang bekerja dan bermukim di kawasan Jadebotabek ternyata lebih memilih jalan-jalan ketimbang membeli hunian, baik itu rumah tapak ataupun apartemen.

    Hal tersebut terlihat dari hasil survei terhadap 10 anak muda dengan metode questionaire yang dilakukan baru-baru ini. Mereka menjawab 10 pertanyaan terkait adanya kemungkinan pembelian hunian rumah tapak atau apartemen dalam waktu dekat.

    Survei ini tak merepresentasikan kondisi sesungguhnya preferensi generasi milenial Jadebotabek, akan tetapi sedikit memberikan gambaran betapa membeli hunian bukanlah hal penting bagi mereka.

    Seluruhnya dari 10 responden yang lahir pada rentang 1982 sampai 1992 dengan penghasilan antara Rp.8 juta hingga Rp.35 juta per bulan ini, lebih memilih jalan-jalan ke luar kota dan luar negeri atau belanja leisure ketimbang membeli hunian.

    Alasan yang dilontarkan, nyaris sama. Dengan jalan-jalan, mereka bisa memperoleh pengalaman, dan mengoleksi ingatan tentang tempat-tempat indah, kebudayaan, bahasa, makanan, dan pandangan-pandangan hidup yang beragam.

    Wilson Wangsawinata, 27 tahun, contohnya. Anak muda bertubuh tinggi dengan kulit terang ini, lantang  memilih traveling.

    “Banyak yang didapat, knowledge, cara bagaimana kota-kota dunia bisa maju, bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan padu tanpa memandang perbedaan agama dan lain-lainnya. Itu bisa saya pelajari dengan keliling dunia,” jelas Wilson yang pernah singgah ke hampir semua kota-kota penting dunia baik di Eropa, Amerika Serikat, maupun Asia.

    Wilson berpenghasilan Rp.8 juta per bulan. Dia menyukai bepergian ke kota-kota dunia dengan penataan mumpuni. Pasalnya, anak muda berkaca mata ini juga merupakan pemerhati pembangunan perkotaan.

    Baca Juga :
    Pertumbuhan KPR Naik Hanya 7 Persen, Ini Sebabnya

    Jawaban senada juga dilontarkan I Made Mahendra Budhiastra (24 tahun) yang bekerja di sebuah hotel bintang lima Jakarta bagian server ini menjawab jalan-jalan merupakan pilihan utama.

    Mahendra hendak mengeksplorasi dunia lebih dalam ketimbang dipusingkan dengan cicilan rumah dengan suku bunga tinggi. “Jalan-jalan lebih berharga,” jelas Mahendra dengan pendapatan Rp.9 juta-Rp.10 juta per bulan.

    Begitu pula dengan Jerry Ferdinand Kambey (26 tahun), Andre Wahono (26 tahun), Ardhi Soetadi (27 tahun), Aloysius (29 tahun), Wawan Prasetyawan (29 tahun), Denis Kurniawan (30 tahun), Adrianus Satrio Adinugroho (31 tahun), Dewi Kartika Rahmayanti (34 tahun), dan Herlina Febryan (34 tahun), menjawab mantap; jalan-jalan!

    Menabung dulu sebelum membeli rumah!

    Walaupun hunian bukan prioritas, tetapi mereka tetap berharap bisa membeli rumah atau apartemen sendiri. Kapan mereka akan membeli hunian?

    Kecuali Dewi dan Adrianus yang sudah mempunyai hunian sendiri setelah menikah dan telah dikaruniai masing-masing satu anak, kedelapan responden lain lagi-lagi memberikan jawaban serupa yaitu, menabung dulu.

    “Tunggu sampai tabungan cukup. Memang sih, bisa dicicil, cuma mau siapkan buffer dulu just in case ada apa-apa,” jelas Denis yang bekerja sebagai Internal Audit Manager perusahaan milik konglomerat Indonesia dan berpendapatan Rp.35 juta per bulan.

    Tidak hanya itu, mereka menganggap harga hunian di Jadebotabek sangat mahal alias overpriced. Tak sesuai dengan spesifikasi yang didapat. Seperti tak mempunyai akses yang memadai, jauh dari jaringan transportasi, dan kualitas konstruksi seadanya.

    Jikalau ada hunian yang dekat dengan tempat kerja dan berkualitas, harganya selangit. Selebihnya adalah hunian dengan kualitas ala kadarnya.