Inilah Perbedaan Iuran BPJS dan Tapera (foto:Dok.inapex)
Inilah Perbedaan Iuran BPJS dan Tapera (Foto:dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Menurut mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Maurin Sitorus, sebenarnya, ada perbedaan prinsip antara iuran perumahan yang harus disetor untuk iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan BPJS.

“Perumahan di BPJS itu kan sampingan bukan utama. Sementara pemerintah menghendaki masalah perumahan tidak sebagai sampingan tapi pokok atau core, karena ini permasalahan hidup manusia,” jelas Maurin, di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan, Tapera, lanjutnya, dibentuk dengan 3 fungsi di dalamnya, yakni pembiayaan perumahan, distribusi subsidi atau gotong royong masyarakat yang berpenghasilan tinggi membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), serta tabungan.

Dalam Tapera, seseorang yang tak termasuk MBR dapat ikut menyetor iuran, walaupun tak langsung memperoleh manfaatnya.

Pada saat pensiun, mereka yang penghasilannya di atas MBR akan memperoleh kembali hasil iurannya termasuk manfaat investasi.

Apabila mengandalkan iuran perumahan pada BPJS saja, Maurin menilai bahwa angkanya terlalu kecil sebab bukan fokus utama.

“Jadi kalau ditanya bagaimana masalah perumahan 20-30 tahun lagi, di BPJS itu bisa hilang (tidak terasa). Tapi, kalau kita punya UU Tapera, (tabungan) bisa makin besar dan makin besar,” tutur Maurin.

Adapun ketertarikan Anda pada Tapera atau BPJS  bisa berkunjung langsung ke Indonesia Properti Expo yang terletak di Hall B sebelah Cafe Gelatik JCC Senayan.

Adapun keuntungan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan menyediakan fasilitas pembiayaan perumahan pekerja.

Dalam program ini peserta akan memperoleh manfaat layanan tambahan yaitu diri terlindungi dan rumah Anda miliki.

Layanan tambahan ini dimaksudkan untuk meringankan beban masyarakat yang sudah bergabung sebagai peserta, tapi belum memiliki rumah.

“Fungsinya BPJS di sini kita memberikan suku bunga yang lebih kecil dari bunga pasar (bunga yang berlaku) yaitu sebesar 4,75%,” ujar Marketing BPJS Ketenagakerjaan cabang Jakarta, Riko saat ditemui INAPEX.co.id di booth FLPP JCC, Jakarta.

Adapun untuk pengajuannya melalui Bank BTN, BPJS hanya membantu untuk bagian verifikasi dan merekomendasikan peserta.

“Untuk saat ini hanya bisa melalui Bank BTN, tapi nanti untuk kedepannya pakai bank lain juga bisa,” jelasnya.

Syarat yang harus dipenuhi paling utama adalah peserta BPJS Ketenagakerjaan selama satu tahun, untuk administrasinya sendiri balik lagi ke perusahaannya apakah menunggak iuran atau lancar-lancar saja, surat pernyataan belum memiliki rumah sendiri atau bisa dikatakan rumah pertama yang diajukan.

Adapun harga hunian yang diajukan adalah rumah subsidi maksimal Rp.500 juta dan lokasinya bebas mengambil rumah yang dimana saja.

“Pengajuannya bisa mendatangi cabang-cabang Bank BTN terdekat,” ucapnya.