Kriteria Hunian Layak Untuk Pramugari
Hunian Untuk Pramugari

JAKARTA, News.RumahRei.Com, – Kerja cepat dengan kaki-kaki jenjang dan cekatan menjadi citra seorang pramugari dalam melayani penumpang di pesawat.

Tak banyak yang tahu, bahwa pramugari juga harus berpacu dengan waktu ketika ingin pulang dan berangkat kerja.

Perjalanan panjang yang memakan waktu berjam-jam hanya untuk sampai di rumah disertai risiko macet akan berpengaruh pada sempitnya waktu untuk bertemu keluarga telah menjadi risiko pekerjaan.

Hal tersebut diperparah dengan mereka harus telah berada di dalam mobil jemputan dini hari untuk menjangkau penerbangan paling pagi.

Salah satu seorang pramugari, Yulia mengaku sejak pertama kali menjalani profesi tersebut telah disarankan oleh pihak maskapai tempatnya bekerja untuk mencari tempat tinggal yang dekat bandara.

“Kami dituntut untuk tepat waktu. Kalau pukul 07.30 harus sudah datang, ya harus (datang). Maka kami cari tempat tinggal yang nyaman dan dekat untuk antisipasi macet,” papar Yulia saat ditemui pers, belum lama ini.

Menurut Yulia, kota bandara sudah pas dengan kebutuhan. Fasilitas seperti minimarket, refleksi, restoran, serta salon kecantikan yang tersedia di kawasan ini tentu merupakan kelebihannya.

“Sempat mencari tempat tinggal yang bukan di kawasan (kota bandara) terus survei rumah kost. Eh ujung-ujungnya balik lagi,” ungkapnya.

Serupa dengan yang dirasakan Yulia, pramugari lain, Maya dan Gania, mengaku hal yang sama. Kawasan kota bandara dianggap pas jadi tempat tinggal ideal bagi krukru aviasi.

“Strategis buat orang-orang seperti kami yang aktivitasnya terpusat di bandara. Sudah begitu ada fasilitas shuttle ke dan dari bandara. Kami tidak khawatir telat sampai bandara,” kata Gania.

Aktivitas kru aviasi terbilang berbeda dengan karyawan kebanyakan. Yulia mendeskripsikan, apabila dia kedapatan jadwal penerbangan pukul 07.00 WIB maka 3-4 jam sebelumnya harus sudah siap.

“Jam 4 (pagi) bangun dan mulai make up. Lalu jam 5 pagi dijemput,” jelas Yulia.

Perhitungan waktu yang dijelaskan Yulia merupakan estimasi normal. Artinya, apabila jalanan macet, hujan, atau ada banjir, perhitungan waktu bisa bertambah lama.

Yulia yang tinggal di wilayah Depok bersama orangtua pada akhirnya terpaksa mencari tempat tinggal terpisah agar menunjang aktivitas kerja. Kawasan sekitar Bandara Soekarno-Hatta pun menjadi tambatan.

“Waktu masih bolak-balik Depok, estimasi perjalanan dua jam saat normal. Kalau macet bisa sampai empat jam,” jelas Yulia.

Penting untuk Yulia memperhatikan waktu istirahat seusai penerbangan. Oleh sebab itu, saat menentukan tempat tinggal pun ia akan memikirkan soal jarak.

“Kami pikirin berapa estimasi waktu berangkat dan pulang dengan jarak tempat tinggal. Itu pengaruh pada waktu istirahat yang kami miliki,” tambahnya.