• Inapex

    Ini Kabar Gembira bagi Kalangan MBR yang Ingin Beli Rumah

  • Oleh
  • Rabu, 06 Des 2017
  • ilustrasi. (Foto: inapex)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Ini kabar gembira bagi kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang berkeinginan beli rumah namun terganjal masalah keterbatasan bugget anggaran yang dimilikinya. Pasalnya,  Pemerintah telah merilis program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

    Program ini, menurut Direktur Perencanaan Pembiayaan Perumahan Kementerian PU-PR, Eko Heripoerwanto, merupakan bantuan yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang telah memiliki tabungan dalam rangka pemenuhan sebagian uang muka perolehan rumah atau sebagian dana untuk pembangunan rumah swadaya melalui kredit atau pembiayaan bank pelaksana.

    “Program ini ditujukan bagi MBR berpenghasilan tetap dan tidak tetap (informal). Pada program tersebut, MBR dapat bantuan uang muka 10-40 persen dari nilai rumah atau maksimal Rp 32,4 juta. Komponen pembiayaan dalam BP2BT yakni 5 persen dari tabungan MBR (pemohon), 26-39 persen dana BP2BT Kementerian PU-PR, dan 50-80 persen kredit atau pembiayaan bank pelaksana,” terang Eko Heripoerwanto, di Jakarta, baru-baru ini.

    Lebih lanjut, BP2BT diharapkan memperluas kelompok sasaran. Jadi kalau selama ini lebih banyak KPR melayani pekerja formal, maka BP2BT seluas-luasnya untuk pekerja informal. Penggunaan BP2BT untuk pembelian rumah tapak atau satuan rumah susun (sarusun) yang dibangun pengembang. Kemudian, pembangunan rumah swadaya. Serta, bangun ulang rumah tak layak huni. “Harga rumah untuk program ini sendiri ditetapkan dalam tiga zona,”katanya

     

    Berikut rincian harga rumah untuk tahun 2018 yang dipakai untuk program BP2BT:

    1. Zona I
    • Sumatera Rumah tapak Rp 130 juta
    • Sarusun Rp 9,5 juta per m2 atau Rp 342 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Kepulauan Riau
    • Rumah tapak Rp 136 juta
    • Sarusun Rp 10 juta per m2 atau Rp 360 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Bangka Belitung
    • Rumah tapak Rp 136 juta
    • Sarusun Rp 8,9 juta per m2 atau Rp 320,4 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Jawa (kecuali Jabodetabek)
    • Rumah tapak Rp 130 juta
    • Sarusun Rp 7,9 juta per m2 atau Rp 284,4 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Sulawesi
    • Rumah tapak Rp 136 juta
    • Sarusun Rp 8,7 juta per m2 atau Rp 313,2 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    1. Zona II
    • Kalimantan
    • Rumah tapak Rp 142 juta
    • Sarusun Rp 9,9 juta per m2 atau Rp 356,4 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Bali
    • Rumah tapak Rp 148,5 juta
    • Sarusun Rp 8,3 juta per m2 atau Rp 298,8 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Nusa Tenggara
    • Rumah tapak Rp 148,5 juta
    • Sarusun Rp 8,6 juta per m2 atau Rp 309,6 juta
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Maluku
    • Rumah tapak Rp 148,5 juta
    • Sarusun Rp 7,6 juta per m2 atau Rp 273,6 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Maluku Utara
    • Rumah tapak Rp 148,5 juta
    • Sarusun Rp 9,6 juta per m2 atau Rp 345,6 juta
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    • Jabodetabek
    • Rumah tapak Rp 148,5 juta
    • Sarusun Rp 9,3 juta per m2 atau Rp 334,8 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 110 juta
    1. Zona III
    • PapuaRumah tapak Rp 205 juta
    • Sarusun Rp 10,7 juta per m2 atau Rp 385,2 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 150 juta
    • Papua Barat
    • Rumah tapak Rp 205 juta
    • Sarusun Rp 15,7 juta per m2 atau Rp 565,2 juta per unit
    • Rumah swadaya Rp 150 juta.
    Baca Juga :
    Pemkot Madiun Bangun Dua Menara Rusunawa MBR