FLPP Paket 2, Rumah Murah Untuk Masyarakat Berpenghasilan Tanggung
Rumah Murah (Foto: jrs)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – DPP Real Estat Indonesia mengajukan usulan kepada pemerintah untuk merealisasikan FLPP Paket 2.

Konsumen yang berpenghasilan Rp.4,5 juta sampai Rp.7 juta/bulan mungkin sempat menghadapi kesulitan saat menembus “barikade” persyaratan perbankan untuk memperoleh kredit pemilikan rumah (KPR).

Pasalnya, penghasilan sebanyak itu dianggap tanggung. Di atas kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), akan tetapi masih jauh di bawah kategori masyarakat berpenghasilan menengah.

Maka dari itu, masyarakat berpenghasilan tanggung tak berhak atas subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), sedangkan untuk membeli rumah yang diinginkan, ideal dan layak huni, tidak mampu.

Pasalnya, harga rumah bagi kategori masyarakat berpenghasilan tanggung ini sudah di atas Rp.300 juta. Padahal, jumlah masyarakat berpenghasilan tanggung ini cukup banyak. Profesinya juga beragam. Ada pegawai negeri sipil (PNS), jurnalis dan karyawan swasta.

Di sisi lain, masyarakat berpenghasilan tanggung ini memiliki kemampuan untuk mencicil rumah per bulannya, tapi tak sanggup membayar uang muka.

“Masyarakat yang berpendapatan Rp.4,5 juta-Rp.7 juta belum ada paket atau instrumen yang meringankan, sedangkan dengan pendapatan segitu, tergolong MBR di perkotaan,” imbuh Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Eddy Hussy saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (10/11).

Eddy menyatakan bahwa pemerintah dapat memberlakukan bunga cicilan 5% bagi masyarakat berpenghasilan Rp.4,5 juta-Rp.7 juta sebagaimana yang sudah ditetapkan kepada MBR.

Sedangkan dari sisi harga, masyarakat berpenghasilan tanggung masih dapat membeli rumah dengan rentang Rp.250 juta-Rp.300 juta. “Cara lain, pemerintah bisa mengunci harga atau dengan menetapkan bunga cicilan yang flat seperti kebijakan MBR saat ini,” tambah Eddy.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, dari sisi kualitas bangunan, Indonesia tak kalah bagus dengan asing.

“Tidak ada kelebihan baik itu investor lokal atau nasional. Saya bilang kalau investor lokal dari sisi kualitas dan lain-lain ada yang lebih bagus. Tergantung juga proyek yang mereka garap,” ujar Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Eddy Hussy saat temu media dengan Forum Wartawan Perumahan Rakyat, Kamis (10/11).

Eddy menuturkan bahwa sekarang perusahaan asing sudah banyak masuk ke Indonesia dan melirik pasar properti.

Hal ini sudah biasa, sebab pembangunan Indonesia sudah bertaraf internasional. Kelebihan pengembang asing masuk ke Indonesia ialah modal yang dipunya lebih kuat dibandingkan pengembang lokal.

“Dari sisi suku bunga cost of fund lebih murah dari kita, tapi dari kualitas ada juga yang kita lebih baik dari mereka. Sementara dari kualitas proyek, tergantung dari segmentasi yang dipilih. Jika proyeknya untuk kelas menengah, bisa jadi kualitasnya hampir sama. Ini harus lebih dipelajari,” pungkas Eddy.

(kps)