Driver Ojek Online Bisa Ikut KPR BTN Subsidi, Sudah Dapat SMS Resminya?`
Driver Ojek Online (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Mikro yang dikeluarkan Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk disambut gembira oleh kalangan pekerja informal. Salah satunya ialah tukang ojek online.

Dalam keterangan tertulisnya, salah satu layanan aplikasi ojek online, Go-Jek, memberitahukan kerja sama dengan BTN dalam Program Swadaya KPR BTN Subsidi dan KPR BTN Mikro. Program tersebut bisa membantu mewujudkan impian para driver untuk mempunyai rumah pribadi.

Program tersebut berlangsung sejak 15 Maret 2017 sampai 14 Maret 2022 khusus mitra Go-Jek berkriteria yang menerima sms resmi.

Adapun kriteria yang dimaksud diantaranya masa kerja driver minimal satu tahun, penghasilan per bulan minimal Rp.2,5 juta, masa aktif per bulan minimal 20 hari, dan total penyelesaian order per hari minimal 5 order.

Kelak, penyaluran KPR subsidi informal tersebut akan dilakukan lewat tabungan BTN Payroll sebagai rekening yang akan dipakai untuk persiapan menabung sebelum akad kredit, seperti uang muka KPR, biaya proses KPR hingga biaya cicilan tiga kali angsuran sebagai cash collateral.

PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk tahap awal peluncuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Mikro masih fokus menyasar ke kawasan daerah di pulau Jawa. KPR Mikro sendiri mempunyai plafon maksimal Rp.75 Juta.

Pasalnya, ketersediaan hunian yang bisa dijangkau oleh KPR Mikro masih jadi tantangan. Pengembang terlihat masih enggan untuk terjun karena pertimbangan profit margin.

Director Residential Savills Indonesia Deden Sudarbo menganggap, pengembang atau developer besar sekarang condong tak tertarik untuk membangun perumahan di daerah. Maka dari itu, pengembang kecil bisa memanfaatkan peluang ini.

“Kalau yang besar sepertinya belum ya, pengembang yang kecil itu sebenarnya memang lebih berpotensi tertarik, karena pertama mereka saingannya tidak banyak,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pemilik-pemilik tanah di daerah yang tak berprofesi sebagai pengembang pun bisa memanfaatkan peluang ini untuk bekerja sama dengan BTN menyediakan rumah KPR Mikro.

“Mereka, kalau saya lihat yang dulu-dulu mereka mungkin bukan developer terus beli tanahnya 25 tahun lalu dengan harga 10 perak-50 perak. Orang seperti itu kan modal tanahnya kecil dan dia untungnya bisa lebih gede,” tuturnya.

“Tapi kalau misalnya sekarang kita ngajak developer baru yang belum punya tanah, belum punya land bank disuruh ikutan program ini, disuruh beli tanah, harga tanah sudah nggak 50 perak lagi, sudah 100-200 ribu biarpun masih murah,” lanjutnya.

Menurut perhitungan kasar, supaya pengembang dapat memperoleh keuntungan dalam pembangunan hunian senilai Rp.75 Juta, harga tanah maksimal harga Rp.50 Ribu per meter persegi. Harga serendah ini susah ditemukan di sekitar kota besar.