Ilustrasi suasana Indonesia Properti Expo 2018. (Foto: dok inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Tak sedikit yang memilih instrumen melalui pasar modal saja sebagai pilihan investasi. Apalagi, Theresia Rustandi, sebagai Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk, juga mendulang cuan dari investasi di properti. “Saya juga mencoba investasi yang lain seperti investasi di saham, tapi saya biasanya menunggu momen yang tepat,” ujar Theresia.

Menurutnya, masih dikatakan Thersia, dalam berinvestasi, selalu berhitung dengan cermat. Terlebih, instrumen pasar modal seperti saham memang cenderung lebih volatil. Sehingga, Theresia mengaku hingga saat ini memang lebih suka membiakkan asetnya di properti yang lebih aman dan bisa prospektif dalam jangka pajang.

Selain itu, dalam pengalamannya di bidang properti, tak jarang melihat bahwa perempuanlah yang justru menjadi pembuat keputusan terkait pilihan investasi. Kemudian, salah satu perempuan yang menjadi eksekutif di salah satu perusahaan energi di Indonesia, Febriati Nadira, juga cukup getol melakukan investasi.

Saat ini, ia memilih berinvestasi di instrumen pasar modal. “Karena imbal hasilnya bagus dan likuid,” jelasnya. Perempuan yang akrab dengan panggilan Ira ini juga tak lupa selalu melakukan diversifikasi investasi. Salah satunya adalah membagi portofolionya ke instrumen investasi properti.

Sementara itu, dalam rangka memperingati Hari Kartini saat ini kalangan perumpuan masa kini dinilai semakin melek soal investasi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, empat tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor perempuan nyaris mencapai 1.000%, tepatnya 965%.

Hingga saat ini, total investor perempuan di pasar modal mencapai 476.772 orang. “Pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan investor laki-laki,” ujar Friderica Widyasari Dewi, Direktur Utama KSEI, baru-baru ini.

Lebih dijelaskan Friderica, jika sebelumnya persentase investor laki-laki dan perempuan di pasar modal adalah 70% berbanding 30%, kini jumlah investor perempuan telah mencapai 41% dari total investor di bursa.  Kemudian, pertumbuhan jumlah investor laki-laki dalam empat tahun terakhir hanya 71% menjadi 629.115 investor.

Maraknya kaum perempuan yang tak percaya diri dalam berinvestasi. Padahal, pengelola keuangan rumah tangga adalah perempuan. Alhasil, Friderica mengatakan, sudah sewajarnya perempuan mulai sadar berinvestasi, bahkan sebelum berkeluarga.