Di Sawangan Masih Ada Perumahan Rp.300 Jutaan
Di Sawangan Masih Ada Perumahan (Foto: jualo)

 

DEPOK, INAPEX.co.id, – Kawasan Sawangan, Depok, yang meliputi kawasan Citayam, Pengasinan, Bojongsari sampai ke arah Parung, Bogor, harga rumahnya sekarang ini sudah tak ada yang di bawah Rp.300 juta. Padahal daerah ini sebelum tahun 2013 adalah kantong-kantong rumah murah senilai Rp.100 – 200 jutaan.

Avani Garden Residence di Lebak Wangi, Citayam merupakan salah satu perumahan yang masih menawarkan harga miring. Dari perempatan Pengasinan atau RSUD Depok di Jl Raya Mochtar lokasinya berjarak 5 km. Perumahan yang dikembangkan di area seluas 2 hektar ini menawarkan 130 unit rumah.

Rumah yang dipasarkan tipe 36/84 senilai Rp.312 juta. Sebelumnya pengembangnya lebih dulu mengembangkan D’Paris Residence yang lokasinya berdekatan. Tahun 2012 harga rumahnya hanya Rp.190 juta, saat ini yang paling murah Rp.300 jutaan.

 

Padahal daerah ini sebelum tahun 2013 adalah kantong-kantong rumah murah senilai Rp.100 – 200 jutaan.

 

“Kenaikannya cepat karena lokasinya kian ramai dan didukung fasilitas memadahi,” tutur staf pemasaran Avani Garden Residence Reza, pada ajang Festival Properti Indonesia di Depok, Kamis (9/3).

Pengembangnya mengklaim harga rumahnya termurah sebab untuk harga ini, tentu lokasinya sudah bergeser jauh ke wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat. Tidak hanya itu, ukuran kavelingnya lebih luas dari rata-rata yang dipasarkan perumahan lain, sekitar 72 m2. Rumah juga sudah dilengkapi pompa air, dapur, dan AC.

“Dari Stasiun Bojong Gede tidak jauh, sekitar 30 menit. Kita mengembangkan dengan konsep cluster. Sekarang masih harga perdana, baru dibuka pemasarannya sudah terpesan 7 unit,” paparnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, pengoperasian digital banking akan makin maksimal jika jaringan bank nanti dapat terkoneksi dengan jaringan informasi pemerintah seperti kantor pertanahan (sertifikat tanah), Kementerian Dalam Negeri (identitas penduduk), pemerintah daerah (identitas penduduk dan IMB), dan Biro Kredit (profil risiko nasabah)

Ini juga didukung regulasi Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melibatkan standarisasi aplikasi KPR, verifikasi, mitigasi risiko, pemrosesan, penilaian, tanda tangan, legalitas dokumen elektronik, keamanan data nasabah, dan lain-lain.

Bank yang highly regulated dengan digital banking sekalipun mungkin tetap susah bergerak selincah perusahaan tekfin, khususnya dalam menyalurkan pinjaman.

Digital banking tetap tak dapat membuat orang memperoleh KPR semudah memesan taksi daring, gadget, pakaian, kamar hotel atau tiket pesawat di ecommerce.

Ada proses yang memang dapat dilakukan melalui gadget seperti membayar cicilan, ada yang mungkin lebih save dilakukan dengan PC misalnya mengisi formulir aplikasi, melengkapi copy dokumen pendukung dan mengirimkannya melalui email, namun ada tahapan (keamanan kredit, legalitas, regulasi,dan lain-lain) misalnya meneken akad kredit, menyerahkan sertifikat tanah dan IMB, menjalankan pelunasan, dan lain-lain yang tetap mesti diselesaikan di kantor bank, tak dapat lewat dunia maya atau call center.