• Inapex

    Dalam 4 Tahun, Ternyata Harga Rumah Naik Gila-gilaan

  • Oleh
  • Kamis, 30 Nov 2017
  • Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

     

    JAKARTA, INAPEX.co.id – Hak pengelolaan atas tanah memang mutlak dikelola oleh pemerintah. Hal ini mengingat tanah merupakan komponen paling berpengaruh terhadap harga jual. Ini di buktikan dengan terus berkembangnya kenaikkan harga rumah hingga seakan tidak bisa dikendalikan dan cenderung gila-gilaan.

    Seperti diterangkan Staf Ahli Menteri ATR/BPN Himawan Arief di Jakarta. Katanya, tahun 2007 saat dia menjadi Direktur Utama Perumnas, harga rumah waktu itu masih Rp 40 juta. Tahun 2011 naik sudah Rp 115 juta.

    “Kan gila-gilaan. Tidak ada mekanisme, sementara daya beli masyarakat terbatas. Sehingga seakan skema pemerintah ini belum bisa sepenuhnya membantu masyarakat berpenghasilan rendah karena mekanismenya dilepas ke pasar. Dengan demikian harga pokok tanah meroket,”kata Himawan.

    Lanjut Himawan, setelah melakukan peninjauan lebih lanjut, pemerintah harus melakukan intervensi pada tanah agar harganya terkendali. Tanah merupakan salah satu komponen rumah yang paling memungkinkan untuk diintervensi pemerintah, selain bunga bank atau bahan konstruksi.

    Himawan pun mengambil contoh pada 2008 saat Wakil Presiden Jusuf Kalla menugaskan Perumnas untuk membangun rusun (rumah susun) Kemayoran.

    “Saat itu, kalau ikuti harga pasar di atas Rp 5 juta per meter persegi. Tapi, karena adanya peraturan pemerintah yang baru, pembangunan rusunami bisa Rp 1 juta per meter persegi,” jelas Himawan.

    Baca Juga :
    Strateginya Beda Jika Mau Beli Rumah Kedua

    Sementara itu, data dari Bank Indonesia (BI) yang merilis Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal III-2017 menunjukkan harga rumah masih mengalami pertumbuhan sebesar 0,5 persen. Berdasarkan per wilayah di Indonesia, untuk Bandar Lampung mengalami kenaikan harga rumah tertinggi se-Indonesia yaitu 3,13 persen. Kenaikan ini cukup signifikan, yakni hampir 3 persen, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

    Berdasarkan tipe, rumah di Bandar Lampung yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah menengah, yaitu 6,94 persen. Sedangkan untuk tipe kecil dan besar masing-masing pertumbuhan harganya 0,0 persen dan 2,45 persen.

    Sementara itu, untuk pertumbuhan harga terendah pada kuartal III-2017, terjadi di Denpasar dengan angka negatif 0,59 persen. Pertumbuhan negatif ini merata pada seluruh tipe rumah di Denpasar. Namun, rumah yang harganya paling turun adalah tipe kecil dengan negatif 1,06 persen.