Bunga Rendah, Mudahkan Buruh Outsourcing Miliki Rumah
Buruh Outsourcing

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Para buruh berstatus outsourcing menjadi perhatian agar mudah memiliki rumah.

Maka dari itu, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan diharapkan dapat membantu buruh-buruh ini.

“Buruh punya dana ratusan triliun di BPJS Ketenagakerjaan. Kami harap dana itu sebagian bisa didistribusikan pada bank-bank BUMN untuk perumahan dan diberikan syarat dengan bunga rendah,” jelas Presiden DPP Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Andi Gani Nena Wea, di Jakarta, Rabu (7/9).

Andi menilai bahwa hal ini dapat dilaksanakan lantaran BPJS Ketenagakerjaan menginvestasikan dana 30 persen jaminan hari tua untuk manfaat layanan tambahan perumahan.

Misalnya, dana yang disuntikkan ke bank-bank BUMN senilai Rp40 triliun dengan syarat plafon bunga 3-4 persen ke BPJS, lalu bank mengambil margin yang sedikit hingga bunga dapat turun.

Andi berharap PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk (BTN) sebagai bank penyalur KPR supaya menurunkan hak kredit dengan jaminan asuransi untuk buruh outsourcing sebagai usaha apabila kontrak outsourcing-nya diputus di tengah jalan.

“Jika itu terjadi, nanti asuransi yang melanjutkan pembayaran. Saat ini sudah ada pembicaraan dengan beberapa asuransi BUMN untuk menjamin tenaga outsourcing, termasuk juga dengan perbankan,” tuturnya.

Saat ini, tambah Andi, sedang membahas metode pembayaran preminya. Meski demikian, dengan sistem seperti ini membuat kekhawatiran, jika pembayaran dapat dijalankan asuransi, buruh outsourcing ini sengaja di-PHK.

“Untuk kebaikan semua pihak, saat ini sedang dicari solusi terbaik agar (buruh) outsourcing bisa punya rumah; dan dicari aturan terbaik untuk buruh, pengusaha, ataupun pemerintah supaya semua bisa berjalan baik kalau bunganya rendah,” paparnya.

Selain itu, pada kesempatan berbeda, Program Nasional Pembangunan sejuta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Banten, masih dijalankan meskipun demand atau permintaannya mengalami kendala sebab daya beli yang menurun.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) Banten Soelaeman Soemawinata menyatakan hal tersebut saat diskusi ‘Mencari Solusi Rumah untuk Pekerja’ di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (7/9).

Menurut pria yang akrab disapa Eman ini persediaan rumah MBR sebenarnya cukup banyak, akan tetapi permintaan konsumen masih minim.

Maka dari itu, sebanyak 12.000 unit rumah yang telah dibangun, tak seluruhnya terserap. Banyak hunian yang sudah jadi, tapi kosong tak berpenghuni sebab tak ada pembeli.

“Ini tugas berat, bagaimana kecepatan membangun rumah bisa diimbangi dengan serapan pasar. Marketnya itu kan ada pegawai negeri, pegawai swasta dan buruh-buruh pabrik,” kata dia.