Ilustrasi. (Foto: pexels)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Terkait keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.

Inilah yang dikhawatirkan developer, hingga keputusan tersebut lantas tidak langsung disambut baik oleh pengembang perumahan.

“Perbankan sudah sampaikan ke kami, sementara bunga kredit tidak dinaikkan, tapi kita enggak tahu sampai kapan bertahan,” ujar Sekretaris Jenderal Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan Totok, sebenarnya suku bunga acuan yang naik tidak melulu diikuti kenaikan bunga kredit. Tapi, ada kecenderungan hal tersebut terjadi.

Naiknya bunga kredit tidak hanya berdampak pada masyarakat yang tengah mencicil hunian melalui kredit pemilikan rumah ( KPR) atau apartemen (KPA).

Bunga kredit yang naik, masih dikatakan Totok, juga bisa berpengaruh pada harga hunian itu sendiri terutama jika bunga kredit konstruksi yang mengalami kenaikan.

“Sekarang saja bunga konstruksi tidak turun-turun. Kalau nanti bunga konstruksi naik, maka bisa-bisa harga rumah juga naik,” tambahnya.

Apalagi, kondisi ekonomi saat dinilainya tidak bersahabat bagi pengembang.

Selain adanya kenaikan suku bunga acuan BI, nilai rupiah yang tertekan membuat sejumlah material utama pembangunan rumah ikut melambung.

Pasalnya, material bangunan baik bahan bakunya atau yang sudah siap pakai masih banyak diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, harga rumah terpaksa ikut terkerek mengikuti harga bahan bangunan.

“Kita enggak bisa memperhitungkan nilai barang berdasarkan impor atau tidak, tapi lebih ke nilai makronya,” tegas Totok.