Apartemen Berfasilitas Lengkap di Bintaro Hanya Rp.300 Juta
Apartemen (Foto: rumah)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Kawasan Bintaro Jaya dan sekitarnya merupkan salah satu pusat pengembangan properti yang banyak diincar di selatan Jakarta. Tidak hanya perumahan (rumah tapak) sekarang apartemen Rp.300 jutaan juga ikut berkembang.

Saat ini apartemen Bintaro Mansion di Jl. Raya Jombang, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Lokasinya yang berjarak sekitar 4 km dari stasiun Jurangmangu yang dilewati kereta commuter Tanah Abang – Serpong – Maja.

Dibandrol Rp.300 jutaan dengan tipe studio senilai Rp.12 juta/m2. Sejak dipasarkan dua bulan lalu telah terjual 57 unit.  Pengembang optimis produknya akan disambut pasar sebab lokasinya dekat Bintaro Jaya yang didukung fasilitas lengkap, akses mudah menuju stasiun dan jalan tol cukup dekat.

“Tahap pertama sebanyak 42 unit terjual hanya dalam tiga minggu. Kami sangat confident karena apartemen yang kami tawarkan harga kompetitif,” jelas Tenry Pawelangi Ridwan, Presiden Direktur PT Gaharu 88 Property, pengembang Bintaro Mansion, di Tangerang Selatan, belum lama ini.

Apartemen tersebut lengkap dengan food court, smart integrated access card, apotek, function hall, sport club dan ruang kantor. Menurut pengembang, harga apartemen ini terjangkau namun berkualitas bagus.

Pengembangnya mengklaim dengan dukungan fasilitas dan akses bagus apartemen ini dapat memberikan imbal hasil (yield) 7 persen per tahun. Kenaikan harganya diprediksi 10-15 persen per tahun.

Peletakan batu pertama pembangunan (groundbreaking) rencananya akan dilaksanakan akhir November 2016 dan serah terima akhir 2018.

Selain itu, pada kesempatan berbeda, menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brojonegoro, di sektor perumahan mengalami ketidakcocokan (mismatch) antara supply dan demand serta beragam permasalahan lainnya.

Target satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah hanya mencapai 220 – 370 ribu unit. Menurut Bambang, banyaknya persentase kebutuhan rumah yang dipenuhi sendiri oleh masyarakat didorong budaya atau mindset bahwa hunian mesti rumah tapak (landed house). Orang memilih menabung berdasarkan kemampuannya, membeli tanah, kemudian membangun sesudah tersedianya dana.

Budaya tersebut mesti diubah bahwa hunian vertikal tersebut bagus dan jadi kebutuhan di perkotaan, tak mesti rumah tapak. Perubahan mindset tersebut akan menciptakan peluang bisnis untuk pengembang sebab masyarakat tak akan membangun apartemen secara sendiri.

Menurutnya, kebutuhan rumah yang masih cukup besar memerlukan akses cukup luas ke sektor pembiayaan. Tidak hanya pembiayaan perumahan (KPR) dari bank dibutuhkan pola pembiayaan yang lebih kreatif dan berbagai melalui sistem mini mortgage dan mikro finance.

(he)