Banyak yang Belum Punya Rumah, Warga Jabodetabek Umur 45 Tahun
Ilustrasi (Foto: mayangsariy44)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Sekitar 43,4 persen warga Jadebotabek usia 45 tahun ke atas tercatat belum punya rumah.

Fakta ini diambil dari hasil “Sentiment Survey 2017” yang dilakukan salah satu peneliti properti selama 15 Maret hingga 5 April 2017.

Itu artinya sebanyak 1.794 orang dari total 4.134 responden yang disurvei, masih menyewa atau mengontrak, atau tinggal di rumah orang tua, warisan, mertua, dan bahkan masih berdiam di rumah dinas.

“Mereka ini tidak semuanya dari kalangan berpenghasilan rendah (MBR), ada juga yang terhitung mapan dengan penghasilan serentang Rp.10 juta-Rp.20 juta per bulan,” cetus Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung, Rabu (3/5).

Sedangkan responden rentang usia 22-28 tahun merupakan golongan yang paling banyak tak mempunyai rumah.

Adapun 2.272 responden atau 54,96 persen usia ini masih numpang tinggal di rumah orang tua, rumah dinas atau rumah warisan.

Hanya 10,75 persen atau 444 orang yang telah membeli, atau mempunyai rumah sendiri. Sedangkan 29,00 persen masih mengontrak.

Menurut Untung, hal tersebut adalah gambaran bahwa masalah perumahan tidak selalu soal kesulitan membayar uang muka atau down payment (DP).

“Ada masalah serius yakni pola pikir. Masyarakat kita tidak sejak awal ditanamkan untuk membeli rumah sejak dini. Masyarakat kita tidak teredukasi dengan baik,” jelas Untung.

Menurutnya, gaya hidup dan gengsi masih jadi pertimbangan utama mengapa kemudian mereka sampai sekarang masih menumpang.

“Beli gawai terbaru, jalan-jalan ke luar negeri, beli mobil anyar, dan menyalurkan hobi bagi mereka lebih penting ketimbang membeli rumah,” tambah Untung.

Perlu diketahui, masa-masa perlambatan pasar properti Indonesia, terutama kawasan Jadebotabek, sebagai pasar acuan dinilai sudah berakhir.

Hal tersebut terbukti dengan nilai transaksi di pasar primer, dan sekunder pada kuartal I tahun 2017 yang memperlihatkan pertumbuhan signifikan secara tahunan.

Berdasarkan data yang terkumpul, nilai transaksi naik 42,5 persen menjadi sebesar Rp.224 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016.

“Sementara dilihat dari jumlah transaksinya naik 38 persen,” katanya.

Meski nilai transaksi tersebut hanya berdasarkan value by sampling, namun pertumbuhan di atas 20 persen menjadi indikasi kuat pasar properti sudah pulih kembali.

Kenaikan transaksi ini terjadi pada semua metriks yang disurvei. Untuk sektor rumah tapak 37,4 persen, ruko 39,5 persen, apartemen naik 40,2 persen, ruang komersial 45 persen, dan lahan 48,9 persen.

Properti dengan harga Rp.2,5 miliar ke atas jadi pendukung kenaikan jumlah transaksi, meski tak menutup penurunan sebelumnya yang didominasi oleh kalangan menengah bawah.

Selain itu, harga rata-rata properti yang ditransaksikan pun mengalami pertumbuhan. Untuk apartemen jadi rata-rata Rp.1,954 miliar, sebelumnya Rp.1,242 miliar.

Sementara rumah tapak menjadi rata-rata Rp.2,866 miliar dari sebelumnya Rp.2,679 miliar. “Jadi, masa-masa suram telah berakhir sejak akhir 2016 lalu,” tutup Untung.